• Selasa, 21 Juli 2026

Sapi Bantuan Desa Dijual Sebelum Beranak, Kasus Petani di Banggai Berakhir dengan Mediasi

.
Nur Rafiqa, Sulawesi Today
- Rabu, 2 Oktober 2024 | 10:02 WIB
Mediasi antara dua petani terkait penjualan sapi bantuan pemerintah di Kabupaten Banggai menghasilkan kesepakatan untuk mengganti ternak yang dijual. (Nur Rafiqa)
Mediasi antara dua petani terkait penjualan sapi bantuan pemerintah di Kabupaten Banggai menghasilkan kesepakatan untuk mengganti ternak yang dijual. (Nur Rafiqa)

Sulawesitoday - Ada yang pernah dengar cerita sapi bantuan pemerintah yang jadi masalah? Nah, di Kabupaten Banggai, perselisihan menarik terjadi antara dua petani di Kecamatan Moilong. RU dan RM, inisial dari kedua petani ini, terlibat dalam konflik karena dugaan penjualan sapi bantuan dari pemerintah desa.

Kasus ini mencuat setelah mereka menjual sapi yang seharusnya tidak boleh dijual sebelum induknya beranak.

Bayangin, sapi-sapi ini disalurkan sebagai bagian dari program berbagi ternak, di mana induk yang sudah beranak nantinya akan diberikan ke warga lain yang belum dapat. Tapi, kenyataannya, kedua petani ini menjual sapi sebelum proses itu bisa berjalan.

Baca Juga: Dua Pemuda Menyamar sebagai Polisi, Rampas Barang Remaja di Makassar

Mediasi yang dilakukan oleh Bhabinkamtibmas, Brigpol Muh. Kosim, di Kantor Desa Saluan pada Selasa, 1 Oktober 2024, dihadiri oleh Babinsa dan perangkat desa setempat. Ada beberapa perangkat desa yang juga ikut memediasi, mungkin supaya masalahnya lebih cepat kelar. Sapi-sapi ini bukan sembarang bantuan, loh.

Pemerintah desa menggunakan dana Alokasi Dana Desa (ADD) untuk mendanai pembagian ternak tersebut, yang diberikan dalam dua tahap, yakni pada bulan April dan September 2024.

Setelah kasus ini mencuat, RU dan RM mengaku, alasan utama di balik tindakan mereka adalah kesulitan ekonomi. Mungkin mereka merasa terdesak dan memilih jalan pintas dengan menjual sapi itu.

“Kami memang terpaksa jual sapi itu, karena kebutuhan ekonomi yang mendesak,” kata salah satu dari mereka. Tapi, meski mengakui kesalahan, mereka berjanji akan mengganti dua ekor sapi betina yang telah mereka jual.

Menurut Brigpol Kosim, mediasi ini memang difokuskan agar kedua belah pihak bisa menyelesaikan masalah dengan cara kekeluargaan. Apalagi, program ini niatnya baik, untuk membantu para petani kecil. Kasus kayak gini sebenarnya bisa menimbulkan banyak pertanyaan. Salah satunya, apakah program berbagi ternak ini perlu diawasi lebih ketat?

Atau mungkin, petani juga butuh bantuan pendampingan dalam mengelola bantuan yang mereka terima, terutama di saat ekonomi lagi sulit?

Harapannya sih, mediasi ini membawa manfaat untuk semua pihak, dan masalah seperti ini nggak terulang lagi. Karena pada akhirnya, tujuan dari bantuan pemerintah adalah untuk kesejahteraan masyarakat, kan? Dengan kejadian ini, jadi ada pelajaran penting soal bagaimana bantuan semacam ini dikelola dengan lebih baik di masa depan.

Editor: Nur Rafiqa

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini