Tapi kemudahan itu berbahaya. Data yang seharusnya rahasia jadi komoditas. Diperjualbelikan di pasar gelap digital. Alamat rumah dijual Rp50.000 per data. Riwayat pembayaran dijual lebih mahal.
Korban bukan hanya debitur bermasalah. Mereka yang sudah lunas pun terancam. Karena data lama tetap tersimpan di server aplikasi. Tanpa enkripsi memadai, kebocoran tinggal menunggu waktu.
Bagaimana Seharusnya Debt Collector Beroperasi?
Profesi debt collector sebenarnya legal. Mereka punya peran dalam ekosistem keuangan. Menagih piutang macet adalah hak perusahaan pembiayaan.
Namun caranya harus beradab. Undang-Undang Perlindungan Konsumen mengatur ini. Debt collector dilarang intimidasi, ancaman, atau penyalahgunaan data pribadi.
Aplikasi matel yang ilegal melanggar semua itu. Mereka beri akses berlebihan kepada penagih. Lokasi real-time debitur terpantau 24 jam. Bahkan foto rumah dari Google Street View tersedia.
Bayangkan situasinya. Seorang debitur yang sedang kesulitan keuangan. Tiba-tiba rumahnya didatangi debt collector. Tanpa pemberitahuan. Tanpa konfirmasi. Privasi hilang seketika.
Lebih parah lagi, data sering bocor ke pihak ketiga. Penagih liar yang tak berafiliasi dengan perusahaan resmi bisa beli akses. Mereka manfaatkan data untuk pemerasan.
Manang Soebeti paham betul risiko ini. Sebagai perwira polisi, ia sering tangani kasus pemerasan berbasis data bocor. Pengalamannya jadi modal kuat dalam gerakan ini.
Siapa Sebenarnya Manang Soebeti?
Nama ini mungkin asing bagi sebagian orang. Tapi di kalangan netizen, Pak Bray sudah legend. Ia aktif di media sosial. Sering angkat isu-isu yang diabaikan mainstream.
Manang bukan tipe perwira yang duduk manis di kantor. Ia turun langsung ke lapangan digital. Membangun komunitas netizen yang peduli keadilan.
Akun Instagram @manangsoebeti_official punya puluhan ribu pengikut. Mereka bukan sekadar followers pasif. Banyak yang siap bergerak ketika Manang memanggil.
Inilah yang disebutnya pasukan bayangan. Warga digital yang punya skill teknis. Ada yang jago riset. Ada yang ahli screenshot. Ada pula yang paham prosedur pelaporan ke platform digital.
Kolaborasi ini efektif. Lebih cepat dari jalur birokrasi formal. Lebih masif dari investigasi konvensional.