Sulawesitoday - Gudang Bulog Desa Tolai menjadi saksi. Selasa pagi, 11 November 2025. Rombongan pejabat datang berbondong-bondong. Misi mereka satu: memastikan beras rakyat tak sekadar layak di atas kertas.
Indra Wijayanto datang dari Jakarta. Jabatannya cukup panjang. Direktur Ketersediaan Pangan Badan Pangan Nasional. Namanya familiar di kalangan birokrat pangan. Kali ini, tangannya sendiri menyentuh karung beras. Matanya sendiri memeriksa butiran putih itu.
Bukan sendirian. Wakil Bupati Parigi Moutong ikut mendampingi. Plt. Kepala Dinas Ketahanan Pangan turut hadir. Anggota DPRD tak mau ketinggalan. Bahkan unsur Polres Parigi Moutong ikut mengawal. Pertanyaannya sederhana: apakah beras ini benar-benar layak masuk ke piring rakyat kecil?
-
Mengapa Pengecekan Fisik Perlu Dilakukan Langsung?
Jawabnya ada di gudang itu. Beras bantuan pangan bukan sekadar angka. Bukan hanya dokumen administratif. Ini soal perut kosong yang menunggu. Soal anak-anak yang butuh makan bergizi.
"Hari ini kita melakukan verifikasi mutu," ujar Indra dengan nada tegas. Kalimatnya pendek. Langsung ke inti. "Beras yang akan diserahkan kepada warga kurang mampu harus melewati pemeriksaan ketat."
Prosesnya tak main-main. Visual check dilakukan pertama kali. Warna beras diperiksa satu per satu. Putih bersih atau kekuningan? Utuh atau banyak yang pecah? Bau apek atau segar? Setiap detail dicatat.
Lalu timbangan. Ini bagian krusial yang sering jadi sumber keluhan. Standar pemerintah menetapkan 10 kilogram per paket. Kenyataannya? "Rata-rata di atas 10 kilogram," ungkap Indra. Nada legitimya terdengar puas. "Warnanya putih. Kondisi fisik layak dikonsumsi."
Tapi apakah cukup? Pertanyaan ini menggelantung di udara. Rakyat sudah terlalu sering mendengar janji. Terlalu sering menerima bantuan yang kurang berkualitas. Beras kuning. Timbangan kurang. Bahkan ada yang sudah berbau.
-
Apa Standar Kualitas yang Diterapkan?
Standar itu jelas. Setidaknya di atas kertas. Berat minimal 10 kg. Warna putih bersih. Bebas kutu dan hama. Kadar air sesuai SNI. Tekstur utuh, bukan pecah-pecah. Tidak berbau apek atau tengik.
"Sebelum distribusi, kita pastikan mutu secara langsung," tegas Indra. Ada penekanan di kata 'langsung'. Seolah menjawab keraguan publik. "Tadi sudah kita lihat bersama. Kualitasnya cukup baik."
Frasa 'cukup baik' itu menarik. Bukan 'sangat baik'. Bukan 'luar biasa'. Hanya 'cukup baik'. Standar minimal yang memenuhi syarat. Atau memang realistis?
Pemeriksan dilakukan di beberapa titik. Karung dipilih acak. Tidak semua diperiksa memang. Tapi sampelnya representative, kata mereka. Dari 20 karung yang dibuka, semua lolos uji visual. Timbangan juga sesuai. Bahkan ada yang 10,2 kg. Ada yang 10,3 kg.
-
Komitmen atau Sekadar Seremonial?
Pertanyaan ini mungkin terdengar sinis. Tapi wajar. Rakyat punya memori panjang soal bantuan pemerintah. Dari era Raskin hingga kini. Keluhan tentang kualitas tak pernah benar-benar hilang.
"Ini bentuk komitmen kami," ujar Indra dengan mantap. "Memastikan bantuan yang diterima bermutu baik dan aman." Kalimatnya terdengar seperti sumpah jabatan. Formal namun tegas.
Artikel Terkait
Wabup Abdul Sahid Tegas di Konsultasi KLHS, Era Ego Sektoral Penataan Ruang Parigi Moutong Harus Berakhir
Sistem Kerja dan Pakaian Dinas ASN Parimo Diatur Ketat, Ini Langkah Transformasi Birokrasi 2025
Yanuar Rizky Bedah Kemiripan Purbaya dan Sri Mulyani, Popularitas Awal Bisa Jadi Bumerang Jika Salah Kelola
Panen Raya Tanpa Tambang Ilegal, Komitmen Tegas Pemda Parigi Moutong Jaga Ketahanan Pangan
846 Ton Beras Mengalir ke Parigi Moutong, Langkah Strategis Stabilkan Harga Pangan di Tengah Gejolak Ekonomi