Sulawesitoday - Tirai Festival Teluk Tomini (FTT) 2025 resmi ditutup. Sabtu malam, 22 November 2025. Bupati Erwin Burase langsung menutupnya. Namun ada pesan tegas. Jangan jadikan ini rutinitas kosong.
"Semoga tidak berhenti di seremonial tahunan," ujar Erwin Burase. Nadanya serius. Matanya menatap para seniman. Para pengusaha lokal. Generasi muda yang hadir. "Ini harus jadi semangat menjaga tradisi," lanjutnya.
Festival tahun ini memang berbeda. Lebih meriah dari sebelumnya. Ribuan pengunjung memadati venue. Tapi pertanyaannya: apakah dampaknya nyata? Atau sekadar euforia sesaat?
Apakah Parigi Moutong Siap Bersaing di Kancah Nasional?
Erwin Burase punya ambisi besar. Dia ingin Parigi Moutong dikenal luas. Bukan hanya sebagai daerah kaya sumber daya alam. Lebih dari itu.
"Kita harus jadi pusat budaya," katanya. "Pusat seni dan kreativitas." Pernyataan ini bukan isapan jempol. Kabupaten ini memiliki modal kuat. Teluk Tomini sebagai anugerah alam. Tradisi lokal yang masih lestari. Generasi muda yang kreatif.
Tapi tantangannya juga nyata. Infrastruktur pariwisata masih terbatas. Promosi belum maksimal. Ekonomi kreatif butuh dukungan lebih konkret. Festival seperti FTT memang momentum penting. Namun, apakah cukup dengan seremoni satu kali setahun?
Bupati menekankan satu hal. FTT bukan sekadar perayaan. Ini harus jadi katalis. Penggerak pariwisata lokal. Pendorong ekonomi kreatif. Pembangun kebanggaan masyarakat terhadap warisan leluhur.
"Momentum ini harus diperkuat," tegasnya. Sulawesi Tengah perlu menancapkan posisinya. Di tingkat nasional. Bahkan internasional.
Program Gampuri dan GSMS: Benarkah Efektif Mencetak Talenta?
Di gelaran FTT kali ini, ada kejutan menarik. Program Gelar Budaya Masyarakat Parigi Moutong (Gampuri) tampil memukau. Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) juga tak kalah menarik perhatian.
Anak-anak terbaik Kabupaten Parigi Moutong naik panggung. Mereka menunjukan bakat dalam musik. Tari tradisional. Teater kontemporer. Bahkan seni rupa.
"Mereka memiliki potensi luar biasa," puji Erwin Burase. Matanya berbinar melihat penampilan para siswa. "Ini bukti nyata," lanjutnya. "Ketika seniman dan sekolah bersinergi, lahirlah kreativitas tanpa batas."
Program Gampuri dimulai tahun lalu. Fokusnya sederhana. Memberi ruang ekspresi bagi komunitas lokal. Mengangkat kesenian daerah ke permukaan. Hasilnya? Cukup menjanjikan.
Artikel Terkait
Ferry Irwandi Sebut Vonis Ira Puspadewi Jadi Alarm Bahaya Profesional BUMN
Temuan Lencana Polri di Mobil Kecelakaan Tol Bakter Berisi 34 Bungkus Ekstasi, Pengemudi Kabur
Mata Tertuju Kayubura, Ketika Sportivitas Jadi Mahkota Sejati di Lomba Mancing FTT Parigi Moutong 2025
Birokrasi Parigi Moutong Berbenah: Penataan Perangkat Daerah Jawab Tantangan Era Digital
Koalisi Sipil Ancam Gugat KUHAP Baru ke MK, Siap Lapor ke PBB