GSMS punya pendekatan berbeda. Seniman lokal masuk ke sekolah-sekolah. Mereka mengajar langsung. Membimbing siswa mengeksplorasi bakat terpendam. Kolaborasi ini membuahkan karya-karya segar. Karya yang membanggakan daerah.
Tapi apakah program ini sustainable? Atau hanya hangat-hangat tai ayam? Pertanyaan ini penting. Karena banyak program serupa di daerah lain mati suri. Setelah anggaran habis. Setelah momen berlalu.
Erwin Burase tampak sadar akan hal itu. "Kita harus terus mendukung," katanya. "Ini investasi jangka panjang." Investasi untuk masa depan Parigi Moutong.
Teluk Tomini: Anugerah yang Perlu Dijaga atau Sekadar Slogan?
Teluk Tomini bukan sekadar perairan biasa. Ini anugerah alam. Menyimpan sejarah panjang. Tradisi maritim yang kental. Kekayaan bahari yang luar biasa.
Namun, kenyataan di lapangan berbicara lain. Kelestarian lingkungan masih jadi PR besar. Sampah plastik mengapung di beberapa titik. Penangkapan ikan tidak ramah lingkungan masih terjadi. Abrasi pantai mengancam pemukiman.
"Saya mengajak kita semua," kata Erwin Burase di penghujung sambutannya. "Mari jaga kelestarian ini." Nadanya penuh harap. Tapi juga ada kekhawatiran tersirat.
Teluk Tomini seharusnya jadi simbol. Simbol kejayaan maritim Sulawesi Tengah. Tapi tanpa aksi nyata, simbol itu hanya jadi retorika. Kosong tanpa makna.
Baca Juga: Birokrasi Parigi Moutong Berbenah: Penataan Perangkat Daerah Jawab Tantangan Era Digital
Artikel Terkait
Ferry Irwandi Sebut Vonis Ira Puspadewi Jadi Alarm Bahaya Profesional BUMN
Temuan Lencana Polri di Mobil Kecelakaan Tol Bakter Berisi 34 Bungkus Ekstasi, Pengemudi Kabur
Mata Tertuju Kayubura, Ketika Sportivitas Jadi Mahkota Sejati di Lomba Mancing FTT Parigi Moutong 2025
Birokrasi Parigi Moutong Berbenah: Penataan Perangkat Daerah Jawab Tantangan Era Digital
Koalisi Sipil Ancam Gugat KUHAP Baru ke MK, Siap Lapor ke PBB