Sulawesitoday - Ancaman banjir bandang dan kebakaran hutan membayangi warga di Kecamatan Parigi Tengah. Hal itu terungkap saat anggota DPRD Kabupaten Parigi Moutong, Arnol Aholai, menggelar reses masa persidangan 2026 di Desa Pelawa, Kamis, 23 April 2026. Pertemuan ini tidak sekadar seremoni serap aspirasi, melainkan ajang adu urgen antara keselamatan jiwa dan pelestarian identitas.
Suasana di Desa Pelawa hari itu cukup gerah. Namun, ruang pertemuan tetap dipadati tokoh adat, jajaran pemerintah kecamatan, hingga pengurus Wanita Islam Alkhairaat (WIA). Mereka membawa "daftar belanja" masalah yang cukup panjang untuk disodorkan ke meja legislatif.
Prioritas utama yang mencuat adalah rasa aman. Kepala Desa Binangga, misalnya, bersuara lantang soal ancaman air. Kuala Desa Binangga butuh beronjong. Segera. Jika tidak, banjir bandang tinggal menunggu waktu untuk menyapu Desa Jononunu hingga Pelawa.
Tak hanya air, warga juga cemas soal api. Musim kemarau sering kali mengubah hutan menjadi barisan api yang sulit dijinakkan.
"Kami butuh Alat Pemadam Api Ringan (APAR) di setiap desa. Ini untuk antisipasi dini kebakaran hutan," ujar salah satu perwakilan warga di hadapan Arnol.
Urusan nyawa memang nomor satu. Tapi urusan harga diri juga tak boleh nomor dua. Di tengah desakan infrastruktur, para pemangku adat dari lima desa—Pelawa Baru, Jononunu, Matolele, Pelawa, dan Binangga—bersuara kompak. Mereka meminta pengadaan pakaian adat resmi. Bagi mereka, kain dan corak dipakaian itu adalah simbol wibawa lembaga adat yang mulai tergerus zaman.
Mendengar itu, Arnol Aholai tampak sibuk mencatat. Politisi ini sadar, anggaran daerah punya keterbatasan, tapi keluhan konstituen adalah perintah.
"Seluruh aspirasi, mulai dari alat pemadam api hingga jati diri tokoh adat, sudah kami rekam. Saya akan kawal agar masuk prioritas pembangunan," tegas Arnol dengan nada meyakinkan.
Tak hanya urusan besar, detail-detail kecil pun disodorkan ke Arnol. Mulai dari pengerasan jalan menuju pekuburan di Dusun II Desa Pelawa yang becek saat hujan, hingga urusan perut berupa bantuan ternak ayam kampung.
Di sektor pendidikan, kondisinya juga memprihatinkan. TK Alkhairaat Desa Pelawa dilaporkan butuh renovasi total karena kusen dan pintunya sudah lapuk dimakan usia.
Usai acara, Arnol tidak langsung pulang. Dia masih melayani obrolan santai warga di luar protokoler. Kabarnya, setelah dari Pelawa, pria ini akan merangsek ke desa-desa lain untuk menjemput aspirasi secara langsung, tanpa sekat meja rapat.
Nampaknya, bagi masyarakat Parigi Tengah, pembangunan bukan cuma soal aspal dan semen. Ini soal bagaimana mereka bisa tidur nyenyak tanpa takut banjir, dan bagaimana mereka tetap tegak berdiri dengan pakaian adat yang membanggakan. Kini, bola panas ada di tangan Arnol untuk memperjuangkannya di kursi dewan.
Nelayan Parigi Tengah Terima 75 Jaket Pelampung dari Ketua Fraksi Gerindra DPRD Parigi Moutong
Artikel Terkait
Sembilan Ancaman Bencana Mengintai Parigi Moutong, Bupati Pimpin Apel Siaga Nasional
Tanah Pura Belum Bersertifikat Puluhan Tahun, Legislator Leli Pariani Janji Kawal ke BPN
Naik Motor Lewat Jalan Ekstrem, Legislator Fathia Bawa Bantuan untuk Lansia Miskin di Pelosok Parigi Moutong
Reses di Wanamukti, Legislator Imam Muslihun Tawarkan Rumahnya sebagai Tempat Singgah Warga Dapil IV
Nelayan Parigi Tengah Terima 75 Jaket Pelampung dari Ketua Fraksi Gerindra DPRD Parigi Moutong