• Selasa, 21 Juli 2026

iPhone Co-Pilot ATR Maros Ditemukan, Teknologi Sensor AI Smartwatch Rekam Pergerakan 13 Ribu Langkah

.
Nur Rafiqa, Sulawesi Today
- Senin, 19 Januari 2026 | 14:48 WIB
iPhone co-pilot ATR PK-THT ditemukan di Bulusaraung. Data smartwatch tunjukkan 13.647 langkah, picu harapan keluarga korban masih hidup.
iPhone co-pilot ATR PK-THT ditemukan di Bulusaraung. Data smartwatch tunjukkan 13.647 langkah, picu harapan keluarga korban masih hidup.

Sulawesitoday - iPhone milik Farhan Gunawan menyimpan jejak digital yang mengguncang logika. Co-pilot pesawat ATR PK-THT itu diduga masih bergerak berjam-jam setelah pesawat jatuh di lereng Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep.

Perangkat itu ditemukan tim SAR pada Minggu, 18 Januari 2026. Layarnya menampilkan notifikasi aktivitas berjalan yang janggal.

Pukul 18.00 WITA, smartwatch mencatat 9.000 langkah. Empat jam kemudian, angka itu melonjak menjadi 13.647 langkah.

Keluarga segera mengamankan ponsel tersebut. Mereka yakin data itu bukan kebetulan.

"Smartwatch mengatur ulang hitungan setiap tengah malam," ujar salah satu kerabat. "Peningkatan di hari yang sama menandakan ada pergerakan nyata."

Putri Keandedes Hasibuan, kerabat Farhan, membenarkan penemuan dua unit iPhone. Satu dipastikan milik co-pilot melalui verifikasi keluarga.

Teknologi smartwatch 2026 mengandalkan sensor akselerometer tiga sumbu. Komponen ini mendeteksi pola akselerasi statis dan dinamis setiap kaki menyentuh permukaan.

Giroskop melengkapi sistem dengan membaca rotasi pergelangan tangan. Kombinasi keduanya menyaring gerakan palsu seperti guncangan kendaraan atau ayunan lengan tanpa langkah.

Algoritma kecerdasan buatan memproses data mentah tersebut. Model machine learning dilatih dari ribuan jam rekaman aktivitas manusia untuk mengenali ritme jalan unik setiap individu.

Perangkat seperti Huawei TruSeen dan teknologi Apple mengintegrasikan sensor detak jantung. Ini memvalidasi intensitas langkah, memisahkan berjalan santai dari berlari dalam kondisi panik.

GPS terintegrasi pada Samsung Galaxy Watch 8 dan perangkat serupa mengukur jarak absolut. Sistem ini mengalibrasi hitungan langkah secara otomatis, meski akurasi tetap terpengaruh permukaan medan kasar.

Namun pertanyaan kritis muncul. Apakah peningkatan 4.647 langkah dalam empat jam benar-benar menandakan Farhan berjalan?

Atau sensor hanya merespons guncangan serpihan pesawat yang bergeser? Bahkan getaran evakuasi tim SAR bisa memicu pembacaan keliru.

Faktor pergelangan tangan non-dominan dan kondisi ekstrem pasca kecelakaan juga mengurangi reliabilitas data. Teknologi canggih tetaplah algoritma yang rentan salah tafsir.

Halaman:

Editor: Nur Rafiqa

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini