Sulawesitoday - Bahlil Lahadalia tahu cara bercerita. Menteri ESDM itu tidak langsung bicara angka. Tidak langsung bicara barel. Dia bicara tentang bak air.
Bak air di kampungnya dulu.
"Kalau saya di kampung dulu nggak ada air PAM, ada air bak," kata Bahlil dalam podcast Bukan Abuleke, Kamis (12/3/2026). "Bak itu menampung hujan. Kapasitas mungkin cuma 3 ton."
Itulah cara dia menjelaskan stok BBM nasional yang kata banyak orang hanya cukup untuk 21 hari. Orang panik. Media ramai. Media sosial lebih ramai lagi.
Padahal, kata Bahlil, itu bukan berarti 21 hari lagi Indonesia kehabisan bensin.
Bayangkan bak air itu.
Kapasitasnya tiga ton. Hari ini terisi penuh. Kamu mandi, habis setengah. Tapi hujan turun, isi lagi. Tidak pernah benar-benar kosong — selama hujan masih ada.
BBM nasional persis begitu. Tangki kita berkapasitas 25 hari. Sekarang terisi 21-23 hari. Tapi setiap hari ada yang keluar, ada yang masuk. Produksi dalam negeri jalan terus. Impor datang terus. Seperti hujan yang tidak berhenti.
"Jangan dipikir bodoh 21 hari itu minyak kita habis," tegas Bahlil. "Jangan diabulekein, kasihan rakyat kita."
Lalu soal Selat Hormuz.
Perang Israel-Amerika-Iran memang membuat dunia khawatir. Selat Hormuz — jalur sempit antara Oman dan Iran itu — adalah urat nadi minyak dunia. Sepertiga pasokan minyak global lewat sana setiap hari.
Ketika ditutup, banyak negara megap-megap.
Indonesia?
"Impor kita untuk BBM jadi itu tidak diambil dari Middle East," kata Bahlil. "Kita ambil dari Asia Tenggara. Malaysia dan sebagian dari Singapura. Itu tidak ada urusannya sama Selat Hormuz."
Artikel Terkait
Gaya Legislator Hi Wardi, Sulap Malam Ramadan Parigi Jadi Arena Lari Sicepat Petir
Harga HP Naik Mulai 16 Maret, Ternyata Biang Keroknya Krisis Chip Memori Global
Raja Chip Dunia Kembali, Jepang Kejar 40 Triliun Yen Semikonduktor di Era AI
Serangga Kecil dari Tanzania Bisa Dongkrak Produksi Sawit Indonesia 10–15 Persen
Pedang Bermata Dua Bernama AI, Indonesia Berlari atau Tergilas?