Sulawesitoday - Pagi-pagi saya buka HP. Isinya peta. Saya mau ke kantor, buka Waze. Mau naik kereta, buka Moovit. Biar cepat. Biar tidak terjebak macet.
Begitulah kita sekarang. Hidup sudah digenggam oleh aplikasi.
Tapi, pernahkah Anda bertanya: siapa sebenarnya di balik layar-layar kecil itu? Siapa yang merakit barisan kode sehingga kita bisa tahu ada polisi di tikungan depan lewat Waze?
Ternyata, jawabannya sering kali mengejutkan. Bukan sekadar anak muda kreatif di garasi rumah. Tapi mereka yang pernah memegang senjata. Atau tepatnya: mereka yang terbiasa memegang data intelijen.
Sebut saja Unit 8200. Bagi warga Israel, itu unit elit. Isinya anak-anak paling jenius di bidang siber dan perang informasi. Di bawah militer langsung. Ada lagi namanya Mamram, pusat komputasi militer mereka (IDF).
Nah, alumni-alumni unit inilah yang sekarang menguasai jagat aplikasi di HP kita.
Coba cek daftar ini. Mungkin ada di HP Anda sekarang:
- Waze: Pendirinya mantan insinyur Unit 8200.
- Moovit: Dibangun alumni Mamram.
- Lightricks: Salah satu pendirinya bahkan disebut masih aktif di Unit 8200.
- Bazaart sampai ZipoApps: Isinya mantan agen intelijen semua.
Industri ini bukan main-main. Nilainya miliaran dolar AS. TechTrends sudah melaporkan betapa kuatnya dominasi talenta "mata-mata" ini di industri teknologi dunia. Termasuk yang mendarat subur di Indonesia.
Masalahnya bukan cuma soal siapa yang buat. Masalahnya adalah: untuk apa?
Ada kekhawatiran besar soal privasi. Namanya juga mantan intelijen, keahlian utamanya memang mengumpulkan data. Ada laporan bahwa aplikasi-aplikasi ini kerap menanamkan adware atau pelacak. Diam-diam, kebijakan privasi diubah. Data pribadi kita disedot pelan-pelan.
ZipoApps dan Supersonic, misalnya, sempat dikritik habis karena praktik pengumpulan data yang dianggap terlalu agresif. Sangat tidak transparan.
Anehnya, meski isu ini santer, jumlah unduhan jalan terus. Kenapa? Karena mereka punya modal besar untuk belanja iklan di Google dan Facebook. Kita, sebagai pengguna, sering kali tidak peduli. Yang penting aplikasinya bagus. Yang penting gratis.
Padahal, "gratis" di dunia digital itu harganya mahal: data pribadi Anda.
Lantas, bagaimana? Apakah harus hapus semua aplikasi?
Artikel Terkait
Raja Chip Dunia Kembali, Jepang Kejar 40 Triliun Yen Semikonduktor di Era AI
Serangga Kecil dari Tanzania Bisa Dongkrak Produksi Sawit Indonesia 10–15 Persen
Pedang Bermata Dua Bernama AI, Indonesia Berlari atau Tergilas?
Bukan 21 Hari Lalu Habis, Bahlil Bongkar Cara Kerja Stok BBM Indonesia di Tengah Perang
Cara Baru Orang Tua Sadap WhatsApp Anak 10-12 Tahun dengan Fitur Akun Terkelola