Sulawesitoday - Dulu, kebanggaan mahasiswa terbaik di China itu sederhana: pakai kemeja rapi, kerja di gedung pencakar langit, dan berkutat dengan angka-angka keuangan atau kode-kode internet. Sektor finansial dan teknologi adalah dewanya.
Tapi itu dulu. Sekarang, arah angin sudah berubah. Drastis.
Lihatlah data terbaru dari Universitas Tsinghua, kampus paling mentereng di sana. Untuk angkatan 2025, jumlah lulusannya yang memilih masuk ke sektor manufaktur dan energi melonjak 19,1 persen. Padahal, tren ini sudah naik selama enam tahun berturut-turut.
"Manufaktur maju sekarang dipandang sebagai sektor inovasi teknologi tinggi yang melibatkan robotika, semikonduktor, hingga kecerdasan buatan," ujar Zhao Litao, peneliti senior dari East Asian Institute.
Siapa saja yang mereka incar? Bukan lagi sekadar bank besar. Nama-nama seperti Huawei, BYD, State Grid, hingga raksasa nuklir China National Nuclear Corporation (CNNC) menjadi primadona baru.
BYD bukan lagi sekadar pabrik mobil. Ia adalah raksasa baterai dan kendaraan listrik dunia. Huawei bukan sekadar jualan ponsel, tapi jantung telekomunikasi global. Bekerja di sana bukan lagi soal menjadi buruh kerah biru, melainkan menjadi otak di balik mesin-mesin canggih.
Fenomena ini merata. Di Huazhong University of Science and Technology, tercatat sekitar 1.500 lulusannya menyerbu sektor manufaktur. Bandingkan dengan sektor keuangan yang hanya mampu menarik 300 orang. Jomplang sekali.
Mengapa bisa begitu?
Ternyata, pabrik-pabrik di China sudah bermutasi. Tidak ada lagi asap hitam dan deru mesin tua. Yang ada adalah laboratorium raksasa. Sektor semikonduktor, baterai, dan energi terbarukan butuh otak-otak brilian. Dan mereka berani bayar mahal.
"Banyak lulusan muda melihat sektor ini sebagai peluang untuk bekerja dengan teknologi mutakhir, bukan lagi pekerjaan pabrik tradisional," kata Fu Fangjian, profesor dari Singapore Management University.
Di sisi lain, pesona ekonomi internet mulai luntur. Regulasi semakin ketat. Ketidakpastian membayangi. Alibaba, misalnya, dulu punya 250.000 karyawan di tahun 2022. Tahun 2025 ini? Tinggal 124.000 orang. Separuhnya hilang. Baidu pun setali tiga uang, jumlah karyawannya merosot lebih dari 20 persen.
Pemerintah China memang cerdik. Selama satu dekade terakhir, investasi besar-besaran diguyur ke sektor strategis. Hasilnya, muncul kekosongan tenaga kerja terampil yang luar biasa besar. Tahun 2025 ini saja, diperkirakan ada 30 juta posisi di manufaktur canggih yang butuh orang.
Lulusan terbaik China kini lebih memilih memegang obeng digital daripada memegang kalkulator saham. Mereka memilih energi nuklir daripada sekadar aplikasi belanja. Itulah cara China memastikan bahwa otot industrinya tetap yang terkuat di dunia.
Lei Jun dan Mimpi AIO,: Mengapa Android dan iPhone Kini Terancam Jadi Barang Jadul?
Artikel Terkait
Tanah Mamuju Mengandung Uranium Tinggi, Paparan Radiasinya 9 Kali Lipat Global
Jangan Tunggu Sakit! Ini 3 Cara Cek Status BPJS Kesehatan Aktif atau Tidak
Jangan Biarkan WiFi Bobol! Ini 12 Cara Praktis Ganti Password WiFi Lewat HP
Instruksi Tegas Prabowo, Kapolri Pakai Metode Ilmiah Usut Tuntas Kasus Aktivis KontraS
Lei Jun dan Mimpi AIO,: Mengapa Android dan iPhone Kini Terancam Jadi Barang Jadul?