Sulawesitoday - Investasi durian kini menjadi sorotan utama di Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah, sebagai salah satu sektor unggulan yang diharapkan menggerakkan perekonomian dan membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat setempat.
Dalam rangka meningkatkan kenyamanan dan keamanan investasi di daerah, salah satu Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Parigi Moutong dari fraksi Hanura, yang akrab disapa Ago, menyampaikan pentingnya sinergi antar pihak.
“Kita harus bisa memastikan bahwa investasi durian di Parigi Moutong berjalan dengan lancar dan aman. Kepercayaan investor akan tumbuh, dan pada akhirnya, lapangan kerja bagi masyarakat juga akan meningkat,” ujarnya dalam pertemuan yang diadakan di lingkungan DPRD.
Ago, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Komisi I DPRD Parigi Moutong, menekankan bahwa kerja sama antara pemerintah daerah, pihak swasta, dan masyarakat merupakan kunci utama untuk menciptakan lingkungan investasi yang kondusif.
Ia mengungkapkan bahwa peristiwa penyampaian aspirasi masyarakat di Desa Lebo ke salah satu pabrik durian, yang berlokasi di wilayah tersebut, telah diselesaikan dengan baik.
“Penyampaian aspirasi masyarakat kemarin mengenai keinginan mereka untuk mendapatkan peluang kerja di pabrik tersebut telah kami tindak lanjuti melalui musyawarah di Kantor Desa Lebo. Pertemuan tersebut dihadiri oleh perwakilan Polres, Kapolsek Parigi, Koramil, pihak pabrik Minxing, Pemerintah Desa Lebo, serta masyarakat setempat,” jelas Ago.
Bahkan, sebelum berdirinya sejumlah pabrik durian di Parigi Moutong, pihaknya telah lebih dulu mengurus jual beli durian.
Menurut Ago, pengalaman teknis dan pengelolaan durian yang telah dilakukan selama ini menjadi modal penting dalam menciptakan investasi yang aman.
Data dari pabrik Minxing menunjukkan bahwa 72 dari 100 pekerja berasal dari masyarakat Desa Lebo, artinya 72 persen tenaga kerja lokal telah terakomodir dengan baik.
Sementara itu, 28 pekerja lainnya adalah tenaga kerja dengan keahlian khusus yang memenuhi kualifikasi perusahaan.
“Jika ada masyarakat Desa Lebo yang memiliki keahlian khusus dan memenuhi kualifikasi, saya jamin pekerja dari luar akan diganti dengan tenaga kerja lokal. Hal ini tentunya akan semakin memperkuat perekonomian dan kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.
Menurut Ago, peristiwa penyampaian aspirasi tersebut hanyalah persoalan miskomunikasi dan telah terselesaikan secara kekeluargaan.
Baca Juga: Durian Indonesia Diincar, Parigi Moutong Berpotensi Jadi Destinasi Wisata Agroindustri Unggulan
Ia menambahkan bahwa penyelesaian masalah melalui dialog antara pihak pabrik dan Pemerintah Desa Lebo merupakan bentuk kerja sama yang positif, sehingga tidak perlu dilanjutkan ke tahap RDP.
Artikel Terkait
Kemenkumham Buat Konten Hak Cipta, Agnez Mo Ungkap Rahasia Sistem Royalti Global
Keamanan Ala Hollywood, Aplikasi Bodyguard Canggih Kini Hadir di New York
Video Viral Kecelakaan Tol Cipularang: Muatan ATK Berserakan, Dua Minibus Terdampak
Tawuran Pelajar di Bandar Lampung: 35 Terduga Pelaku Ditangkap, Senjata Tajam Disita
Lukisan Kontroversial Tikus dalam Burung Garuda Viral, Pelukis Rokhyat Ungkap Luka Politik Indonesia