Sulawesitoday - Dalam upaya menaikkan standar keamanan dan mutu pangan, Brigjen Pol Hermawan, Direktur Pengawasan Penerapan Standar Keamanan dan Mutu Pangan, menegaskan langkah baru bagi barang impor.
"Barang impor yang masuk tidak langsung dilepas ke masyarakat, melainkan harus melalui proses penyimpanan di gudang, diaudit, dilengkapi dengan SPBB, baru kemudian memperoleh izin edar," ujarnya pada Selasa (18/2/2025).
Sistem yang dahulu masih memberikan kelonggaran terhadap barang tanpa izin edar kini mendapat pengetatan.
Menurut Brigjen Pol Hermawan, kerja sama dengan Satgas Pangan Pori menjadi kunci dalam memastikan tidak ada barang yang keluar dari gudang tanpa memenuhi persyaratan.
"Dengan menggandeng Satgas Pangan Pori, kami pastikan bahwa setiap barang yang belum memiliki izin edar tidak akan diperdagangkan," tegasnya.
Tak hanya itu, pengawasan juga diarahkan kepada para pengusaha yang terlibat dalam distribusi barang impor.
"Kita periksa, panggil, dan beri pembinaan kepada para pengusaha. Namun, bila pelanggaran terus berlanjut, pencabutan izin akan kami usulkan, dan langkah pendegangan hukum menjadi jalan terakhir," jelasnya.
Langkah tersebut dianggap perlu untuk menciptakan efek jera dan menjaga integritas pasar.
Hal ini dinilai sangat krusial, terutama bagi produk unggulan nasional seperti durian, yang selama ini telah membawa nama Indonesia ke kancah internasional.
"Kita membawa nama Indonesia melalui produk seperti durian. Jika kualitas tidak terjaga, dampaknya tidak hanya pada kesehatan masyarakat, tapi juga reputasi bangsa," ujarnya dengan penuh keyakinan.
Ia menambahkan, potensi sebagai destinasi wisata durian juga tengah digalakkan. "Bayangkan, bila daerah mampu mengangkat nama Indonesia, pencarian durian di luar negeri pun akan mengarah ke sini.
Ini bukan hanya soal produk, tapi juga tentang pariwisata dan pengembangan agroindustri," pungkasnya.
Bahkan, melalui audit ketat durian di Parigi Moutong, traceability dan kualitas buah ekspor ke China telah dijamin, menambah keyakinan bahwa pengawasan serupa akan diterapkan secara konsisten.
Mengutip contoh dari Jawa Tengah, Brigjen Pol Hermawan menyebutkan keberhasilan pembangunan pabrik parfum berbasis bahan alami yang tidak hanya menghasilkan produk berkualitas, tetapi juga mengundang wisatawan untuk menyaksikan proses produksinya.
Artikel Terkait
Jemaah Umrah Sulsel Tertahan di Arab Saudi, Masalah Pesawat Jadi Kendala Kepulangan
Dari BKPM ke DPR RI, Franky Sibarani Siap Berikan Manfaat bagi Masyarakat
Audit Ketat Durian di Parigi Moutong Pastikan Traceability dan Kualitas Buah, Ekspor ke China Jadi Realita
Lagi 22 Penambang Emas Ilegal Ditangkap, Polisi Ungkap Bukti Ekskavator dan Emas Murni
Verifikasi Ulang PPPK Tahap II Sulteng Dijadwalkan April Mendatang, Nasib 334 Pelamar Tak Lulus Seleksi Administrasi Belum Jelas