Kala mesin kapal mendadak mati, gelombang tak menunggu; ia menembus lambung kapal hingga bocor, dan begitu saja kisah pelayaran berubah menjadi petak umpet dengan nyawa sebagai taruhannya.
Sudarno menegaskan, “Kami cek ulang setiap nama di posko lapangan. Jika ada penumpang yang belum terkonfirmasi atau keluarga yang belum melapor, operasi SAR akan kami lanjutkan.”
Baca Juga: Cuaca Buruk dan Sistem yang Lambat: Kapal Wisata di Bengkulu Tenggelam, 7 Orang Meninggal
Kapal ini membawa 104 jiwa—98 wisatawan, satu nahkoda, dan lima ABK—dengan rute balik dari Pulau Tikus. Kini, setelah tragedi berlalu, tugas berikutnya lebih pelik: menegakkan fakta dalam lautan informasi yang kerap terseret gosip.
Sembari otoritas berlomba-lomba mematikan rumor, keluarga korban berharap kepastian. Dan di balik semua angka, ada kerinduan kolektif: agar pelayaran berikutnya tak lagi menjadi kisah duka, melainkan cerita bahagia yang benar-benar sampai di tujuan.
Artikel Terkait
Begal Kecil di Palu: Ditangkap Bawa Sajam, Menangis Saat Digelandang
Erwin Burase–Abdul Sahid Resmi Jabat Bupati-Wabup Parigi Moutong, Tekad Bangun Persatuan Pasca-Pilkada
Jaringan Transmisi 275 kV Terganggu, Pasokan Listrik Palu dan Sekitar Diperbaiki Bertahap
Dugaan Korsleting Listrik Ubah Hening Dini Hari Jadi Amukan Api di Pasar Simpong Banggai
Cuaca Buruk dan Sistem yang Lambat: Kapal Wisata di Bengkulu Tenggelam, 7 Orang Meninggal