Sulawesitoday - Bagaimana nasib program makanan bergizi gratis ketika puluhan pelajar justru tumbang? Selasa kelabu di Kupang, Nusa Tenggara Timur, berubah menjadi alarm ketika gelombang Siswa SMP di Kupang Keracunan Usai Santap MBG, Anak-anak Muntah di IGD rumah sakit, menyisakan pemandangan pilu dan pertanyaan besar di balik janji gizi.
Hari itu, puluhan siswa SMP Negeri 8 Kota Kupang mendadak didera nyeri perut hebat, mual, muntah tak tertahan, hingga kepala pusing tak karuan. Mereka dilarikan ke tiga rumah sakit berbeda: Rumah Sakit S.K. Lerik, Rumah Sakit Mamami Kupang, dan Rumah Sakit Umum Siloam. Sebuah pemandangan yang tak biasa di Kota Karang.
Di Unit Gawat Darurat (UGD) RSU Mamami, suasana mirip medan pertempuran: hiruk pikuk petugas medis berlarian, sementara para pelajar tergeletak lemas di setiap sudut. Beberapa sudah terpasang infus, yang lain masih terus muntah-muntah, seakan raga mereka menolak paksa sesuatu yang seharusnya menguatkan. Bahkan, karena keterbatasan fasilitas, ada ranjang yang harus menampung dua pelajar sekaligus.
“Semua datang sudah kondisi sakit perut dan bahkan sudah lemas, dan semua sedang kita tangani,” tutur seorang petugas medis di sana, wajahnya memancarkan keletihan.
Gelombang pasien ini, seperti ombak yang tak berhenti, terus berdatangan sejak pukul sembilan atau sepuluh pagi, diantar mobil ambulans bahkan kendaraan BNPB Kota Kupang. “Terus bertambah makanya masih kita tangani agar anak-anak tidak mengalami dehidrasi,” imbuh petugas itu, menyoroti urgensi kondisi para siswa.
Bukan serangan mendadak tanpa peringatan. Sebagian siswa mengaku, rasa tidak enak badan sudah menjalar sejak Senin malam. Puncaknya, bak badai yang menerjang, terasa parah pada Selasa pagi.
Seorang siswi yang terbaring lemas dengan keluhan sakit perut dan kepala pusing, berbisik, “Sejak tadi malam, tapi sudah mulai terasa setelah konsumsi makanan gratis di sekolah, itu dagingnya terasa bau busuk, sayur juga seperti basi.” Sebuah pengakuan polos yang mengungkap dugaan biang kerok di balik insiden ini.
Ironisnya, saat awak media mencoba mencari klarifikasi dari pengelola SPPG Kelapa Lima 1, selaku penyedia Makanan Bergizi Gratis (MBG) di SMP Negeri 8 Kupang, pintu informasi seolah tertutup rapat. Panggilan telepon tak berbalas.
Ketika wartawan mendatangi langsung kantor mereka, tidak ada satu pun perwakilan yang bersedia memberi penjelasan. Bahkan, pengambilan gambar atau perekaman aktivitas di kantor itu pun dilarang keras, menyisakan tanda tanya besar di balik insiden keracunan massal ini.
Baca Juga: Target 100 Hari Kadis ESDM Sulteng: Sikat Perusahaan Tak Patuh, Lindungi Lingkungan Bumi Tadulako
Artikel Terkait
Parimo Hadirkan Pendidikan Inklusif Ramah ABK di SMP, Kesetaraan Akses Belajar Jadi Prioritas Utama
Delapan Tersangka Dibekuk Polisi Morowali Utara Usai Bentrokan Mengerikan Desa Bimor Jaya vs Keuno, Begini Nasibnya!
Bukan Hoaks! Fenomena Gen Z Indonesia Menganggur Jadi Sorotan Tajam Dunia
Temuan BPK 2022-2024 Parimo Menumpuk Rp 10 M, DPRD Desak Percepatan Pengembalian Dana Pembangunan
Target 100 Hari Kadis ESDM Sulteng: Sikat Perusahaan Tak Patuh, Lindungi Lingkungan Bumi Tadulako