Sulawesitoday - Bencana banjir bandang yang melanda Kota Denpasar dan enam kabupaten lainnya di Bali pada 10 September 2025 telah melumpuhkan sendi-sendi perekonomian tradisional. Kerugian material sementara mencapai Rp 34,4 miliar. Pasar Badung, jantung perdagangan terbesar Pulau Dewata, lumpuh total.
Gelondongan pohon dan puing bangunan berserakan. 474 unit kios dan ruko hancur. Aktivitas ekonomi terhenti seketika.
Data terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 11 September 2025 pukul 11.00 WIB mencatat 14 korban jiwa. Dua orang masih dalam pencarian. Kota Denpasar menjadi wilayah terparah dengan 8 korban meninggal dan 81 titik banjir dari total 120 titik di seluruh Bali.
Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar mengidentifikasi penyebab utama. Gelombang ekuatorial Rossby memicu pertumbuhan awan konvektif. Curah hujan ekstrem mencapai lebih dari 150 mm per hari. Fenomena gelombang atmosfer bergerak ke barat di sekitar ekuator.
Kelembaban udara tinggi dari permukaan hingga lapisan 500 milibar memperburuk kondisi. Sistem drainase buruk dan selokan tersumbat menjadi faktor pendukung. Pasang laut rob memperparah genangan di dataran rendah Denpasar.
Kawasan cagar budaya yang menjadi pusat perdagangan mengalami kerusakan masif. Pasar Seni Kumbasari terendam. Pertokoan tekstil terbesar di Jalan Pura Demak lumpuh total. Delapan ruko dan 8 rumah di area Pasar Badung terendam hingga atap.
Infrastruktur strategis porak-poranda. Delapan belas titik longsor terjadi. Jembatan jebol di beberapa lokasi. Sembilan jaringan pipa air bersih rusak di Gianyar. Pohon tumbang di 9 titik memutus akses jalan utama. Gangguan pasokan listrik melumpuhkan sejumlah desa.
Presiden Prabowo Subianto memerintahkan percepatan operasi pencarian dan penanganan darurat. Pemerintah Provinsi Bali menetapkan status tanggap darurat selama 7 hari. Dana bantuan Rp 5 miliar dari pemerintah pusat segera disalurkan. Tambahan bantuan logistik Rp 1 miliar disiapkan untuk korban.
Tim SAR gabungan 200 personel dikerahkan. Mobilisasi 400-600 personel dari berbagai instansi dimaksimalkan. Bantuan logistik meliputi 200 lembar selimut, 300 paket sembako, dan 50 unit tenda keluarga. Sebanyak 562 warga mengungsi ke posko darurat.
Gubernur Bali I Wayan Koster menegaskan peristiwa ini sebagai banjir terparah dalam 70 tahun terakhir. "Hujan deras kali ini sangat luar biasa, bahkan menurut pedagang, sudah 70 tahun tidak ada hujan sebesar ini," ungkapnya. Kepala BNPB mencatat curah hujan 385 mm lebih besar dibanding bencana banjir Bekasi pada Maret 2025.
Bencana yang bertepatan dengan Hari Raya Pagerwesi ini menjadi ujian ketahanan ekonomi rakyat Bali. Ketika pasar ramai pembeli dan warga sibuk bersembahyang, air bandang datang tanpa ampun. Kini, upaya pemulihan infrastruktur dan pembersihan lumpur menjadi prioritas. Koordinasi pemerintah pusat dan daerah diintensifkan untuk membangun kembali sendi-sendi ekonomi yang hancur.
Banjir ini bukan sekadar bencana alam biasa. Ia menjadi cerminan tantangan perubahan iklim yang menuntut kesiapan infrastruktur dan sistem peringatan dini yang lebih baik. Harapan pemulihan ekonomi tradisional Bali kini bertumpu pada kecepatan respons dan komitmen bersama membangun kembali kejayaan Pasar Badung sebagai jantung perekonomian Pulau Dewata.
Baca Juga: Viral Medsos Picu Aksi Teror Bom Molotov di 6 Pos Polisi Yogyakarta-Sleman
Artikel Terkait
Festival Literasi Parigi Moutong 2025 Resmi Dibuka, Libatkan 23 Kecamatan dalam Kompetisi Tujuh Kebiasaan Baik
Menkeu Purbaya Bongkar Akar Masalah Pengangguran: Rp425 Triliun Terkunci di BI
Geliat Literasi Parigi Moutong Bangkitkan Semangat Generasi Emas 2025
Kejaksaan Palu Tingkatkan Status Kasus Perumda ke Penyidikan, Kerugian Daerah Rp1,2 Miliar
Viral Medsos Picu Aksi Teror Bom Molotov di 6 Pos Polisi Yogyakarta-Sleman