• Selasa, 21 Juli 2026

Prabowo Bentuk Dirjen Pesantren: Dari Resolusi Jihad 1945 Hingga Peradaban Global 2025

.
Nur Rafiqa, Sulawesi Today
- Sabtu, 25 Oktober 2025 | 21:11 WIB
Prabowo resmi bentuk Dirjen Pesantren, angkat Resolusi Jihad 1945 sebagai inspirasi. Santri kini jadi prioritas strategis negara!
Prabowo resmi bentuk Dirjen Pesantren, angkat Resolusi Jihad 1945 sebagai inspirasi. Santri kini jadi prioritas strategis negara!

Prabowo memiliki keyakinan yang kuat terhadap santri. Ia melihat mereka bukan sekadar penjaga moral bangsa. Lebih dari itu, santri harus menjadi pelopor kemajuan. Menguasai ilmu agama sekaligus ilmu dunia. Berakhlak tapi tetap berdaya saing.

"Santri hari ini bukan hanya penjaga moral bangsa, tetapi juga pelopor kemajuan," ujar Presiden dengan nada optimis. Ada harapan besar yang ia gantungkan pada generasi pesantren.

Dalam pandangan Prabowo, santri harus mampu bersaing di tingkat global. Tanpa kehilangan akar nilai keislaman dan keindonesiaan. Ini tantangan besar. Karena globalisasi sering membawa erosi nilai. Tapi santri, dengan fondasi spiritual yang kuat, diyakini mampu melewatinya.

Apakah ini visi yang realistis atau sekadar retorika politik? Waktu yang akan menjawab. Namun setidaknya, ada political will yang jelas dari pemerintah untuk memberdayakan pesantren.

  • Apa Dampak Nyata Bagi Pesantren di Lapangan?

Pertanyaan pragmatis ini pasti muncul. Dirjen Pesantren sudah direstui. Lalu apa yang berubah di lapangan?

Secara administratif, pesantren akan mendapat payung hukum lebih kuat. Akses terhadap anggaran negara lebih terbuka. Program-program pemberdayaan bisa lebih terstruktur dan terukur. Guru-guru pesantren (ustadz dan ustadzah) berpotensi mendapat perhatian kesejahteraan lebih baik.

Namun ada juga kekhawatiran. Intervensi negara yang terlalu dalam bisa mengekang kemandirian pesantren. Tradisi pesantren yang fleksibel dan adaptif mungkin terganggu oleh birokrasi yang kaku.

Prabowo sepertinya menyadari kekhawatiran ini. Maka ia menekankan kata "melindungi" dan "memperkuat," bukan "mengontrol" atau "mengatur." Ini sinyal bahwa pemerintah ingin menjadi fasilitator, bukan diktator.

Sejauh mana komitmen ini akan dijaga? Mari kita tunggu implementasinya dalam beberapa bulan ke depan.

Baca Juga: Dana Rp200 Triliun Ludes, Bank Mandiri Kehabisan Jatah dan Minta Tambahan

Halaman:

Editor: Nur Rafiqa

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini