"Beliau menyampaikan salam hormat, namun di sisi lain Presiden mengatakan bahwa negara meminta, Ibu Pertiwi meminta, kepada semua aparat negara yang ada di ESDM agar berikanlah kontribusi terbaiknya dalam rangka membangun bangsa dan negara," ungkap Bahlil dengan penuh semangat.
Pesan itu terdengar mulia. Namun ancaman yang menyusul jauh lebih keras.
-
Ancaman Keras: "Saya Rumahkan Kalian"
Bahlil tak main-main. Ia mengancam akan merumahkan pegawai dan pejabat ESDM jika masih melakukan praktek-praktek kotor. Jangan lagi ada cara-cara lama. Jangan lagi ada permainan izin yang merugikan negara.
"Jangan lagi gaya-gaya lama dipakai, jangan lagi ada cara-cara lapan enam, terutama kepada dirjen-dirjen yang memberikan izin-izin," kata Bahlil dengan tegas. "Kalau saya tahu, kalau ada laporan, saya tidak segan-segan untuk saya rumahkan kalian, tidak ada lagi pindah-pindah."
Istilah "lapan enam" merujuk pada praktek kolusi dan korupsi yang sudah mendarah daging di birokrasi Indonesia. Bahlil sepertinya ingin mengirim sinyal: era baru, aturan baru.
Namun pertanyaannya: apakah ancaman itu cukup efektif tanpa sistem pengawasan yang ketat?
Baca Juga: KPK Resmi Selidiki Dugaan Korupsi Kereta Whoosh, Mahfud MD Minta Dipanggil
Artikel Terkait
Tiga Musuh Bersama yang Mesti Dilawan Prabowo Agar Rakyat Solid di Belakangnya, Kata Konsultan Politik
Purbaya Bawa Data Survei LPS Bantah Kritikan Hasan Nasbi Soal Gaya Komunikasi
Purbaya Ancam Blacklist Seumur Hidup Pelaku Impor Balpres Ilegal
Legislator Desak Usut Tuntas Tambang Ilegal Mandalika yang Libatkan WNA, Produksi Fantastis
KPK Resmi Selidiki Dugaan Korupsi Kereta Whoosh, Mahfud MD Minta Dipanggil