Sulawesitoday - Megaproyek kebanggaan mantan Presiden Jokowi kini terombang-ambing. Whoosh dan IKN, dua simbol ambisius era kepemimpinan sebelumnya, tengah menghadapi nasib yang tak pasti. Seorang pengamat politik senior mengklaim ini bukan sekadar kebijakan teknis. Lebih dari itu. Ada retakan relasi politik di baliknya.
Ray Rangkuti, Direktur Eksekutif Lingkar Madani Indonesia, membuka wawasan baru. Ia menilai hubungan Jokowi dengan Presiden ke-8 RI, Prabowo Subianto, sudah tak seharmonis dulu. Buktinya? Dua mercusuar pembangunan era Jokowi kini seperti ditinggalkan. Whoosh diusut dugaan korupsi oleh KPK. IKN seolah berhenti bergerak.
"Ini bukan kebetulan semata," ujar Ray dalam tayangan siniar di kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP yang dipantau Sabtu, 1 November 2025. Analis yang kerap mengulas dinamika politik nasional ini melihat pola yang mencurigakan. Dua ikon terbesar Jokowi justru mengalami tekanan di era pemerintahan baru.
Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung, yang sempat jadi kebanggaan Indonesia, kini tengah ditelanjangi KPK. Investigasi dugaan korupsi mengancam reputasi proyek bernilai triliunan rupiah itu. Sementara itu, pembangunan Ibu Kota Nusantara di Kalimantan Timur terlihat kehilangan momentum. Gaung besar yang dibangun sejak 2019 kini seperti hanya gema di padang pasir.
Apakah Ini Strategi Politik atau Sekadar Prioritas Berbeda?
Pertanyaan ini menggantung di benak banyak pengamat. Ray Rangkuti punya jawaban tegas. Menurutnya, membiarkan dua proyek strategis ini mandek adalah pilihan politik. Prabowo, dengan segala kekuasaan yang dimilikinya, seharusnya bisa mengintervensi. Namun faktanya, ia terkesan diam saja.
"Dua-duanya sekarang seperti mandek," tegas Ray. "IKN mandek secara politik dan fisik pembangunannya. Whoosh diulik-ulik soal kemungkinan korupsinya." Pernyataan itu disampaikan dengan nada skeptis, seolah mengajak publik untuk membaca lebih dalam.
Dalam pandangan Ray, ini bukan semata masalah teknis anggaran atau prioritas pembangunan. Ada dimensi politik yang lebih besar. "Artinya dua ikon Pak Jokowi ini kok diganggu," ujarnya. Pertanyaannya kemudian: apakah Prabowo secara sengaja membiarkan? "Ya, kalau dia enggak melakukan apa-apa, ya tentu karena dia membiarkannya. Sederhana itu," tambah Ray.
Warisan Jokowi di Tangan Prabowo: Diteruskan atau Dibiarkan Mati?
Proyek Whoosh mulai beroperasi September 2023. Kereta cepat pertama di Asia Tenggara ini menjadi simbol ambisi Indonesia untuk masuk dalam jajaran negara maju. Dana yang dikeluarkan mencapai Rp 113 triliun, sebagian besar berasal dari pinjaman China. Kini, KPK menyisir kemungkinan penyimpangan di dalamnya. Proses hukum yang bergulir menciptakan stigma negatif terhadap proyek yang harusnya membanggakan itu.
Nasib IKN tak kalah miris. Dicanangkan sebagai ibu kota baru di tengah hutan Kalimantan, proyek ini sempat mendapat dukungan penuh dari Jokowi. Namun sejak Prabowo naik, intensitas pembangunan menurun drastis. Anggaran dipangkas. Prioritas dialihkan. Istana Garuda yang megah masih berdiri di tengah ketidakpastian. Investor asing yang sempat antusias kini menahan langkah.
"Ini soal warisan politik," analisa Ray. Menurutnya, setiap pemimpin baru punya kecenderungan untuk membangun narasi sendiri. Melanjutkan proyek pendahulu kadang dianggap tidak memberikan 'cap' kepemimpinan yang kuat. "Prabowo ingin membangun legasinya sendiri, bukan meneruskan Jokowi," tebak Ray.
Apa yang Sebenarnya Terjadi di Balik Layar?
Spekulasi tentang retaknya hubungan Jokowi-Prabowo sebenarnya bukan hal baru. Sejak kampanye Pilpres 2024, berbagai pihak sudah mencium aroma ketidakharmonisan. Jokowi memang secara terbuka mendukung pasangan Prabowo-Gibran. Namun di balik dukungan itu, muncul berbagai isu tentang syarat dan kesepakatan politik yang tidak sepenuhnya berjalan mulus.
Artikel Terkait
Selisih Rp18 Triliun Dana Pemda Terungkap: Ini Kata Mendagri Tito
Parigi Moutong Prioritaskan Sawah Ketimbang Tambang dalam Revisi RTRW, Anggota DPRD Leli Pariani Desak Sinkronisasi LP2B
DPRD Parimo Desak Pemda Rampungkan Revisi RTRW — Tanpa Itu, Pembangunan 2026 Bisa Blunder
Dari Bubur Kacang Hijau hingga Makan Bergizi Gratis: Hasan Nasbi Buka Kenangan Program PMTAS Era Orde Baru
Prabowo Subianto Serang 'Serakahnomics' di Forum APEC: Ekonomi Serakah Ancam Stabilitas Global