• Minggu, 19 Juli 2026

Dari Bubur Kacang Hijau hingga Makan Bergizi Gratis: Hasan Nasbi Buka Kenangan Program PMTAS Era Orde Baru

.
Muhammad Aqil Azizi, Sulawesi Today
- Sabtu, 1 November 2025 | 14:48 WIB
Hasan Nasbi ungkap program PMTAS era Soeharto yang mirip MBG. Apakah sejarah terulang atau ada pelajaran baru dari masa lalu?
Hasan Nasbi ungkap program PMTAS era Soeharto yang mirip MBG. Apakah sejarah terulang atau ada pelajaran baru dari masa lalu?

Sulawesitoday - Mantan Kepala Komunikasi Kepresidenan membuka lembaran lama. Hasan Nasbi menguak program makan. Program itu dari zaman Orde Baru. Namanya Pemberian Makanan Tambahan Anak Sekolah. Kini muncul kembali. Dengan nama berbeda. Tapi esensi sama.

Hasan Nasbi Batupahat bicara terus terang. Lewat kanal YouTube pribadinya, Jumat 31 Oktober 2025, ia membandingkan. Program Makan Bergizi Gratis yang digadang pemerintahan sekarang ternyata punya "kakek". PMTAS lahir awal 1990-an. Generasi milenial mungkin tak kenal. Tapi anak SD era itu tahu betul.

"Sekarang kan ada makan bergizi gratis," ujar Hasan. "Tapi awal 90-an, Orde Baru punya PMTAS." Nada bicaranya datar. Namun tersirat pertanyaan: apakah ini inovasi atau sekadar daur ulang kebijakan lama?

Bubur Kacang Hijau dan Telur Rebus: Kenangan Masa SD yang Tak Terlupakan

Hasan mengingat masa kecilnya. Ia duduk di bangku SD. Jadi penerima program pemerintah. Makanan yang datang sederhana. Tapi cukup mengenyangkan. Kadang bubur kacang hijau. Kadang telur rebus.

"Waktu SD saya dapat itu," kenangnya. Menu itu mungkin tak mewah. Namun untuk anak-anak keluarga kurang mampu, itu berarti banyak. Energi untuk belajar. Motivasi untuk tetap sekolah. Nutrisi yang tak semua orangtua mampu sediakan.

Program PMTAS diklaim menjangkau luas. Tahun 1995 hingga 1996 saja, enam juta anak sudah terlayani. Angka fantastis untuk era itu. Cakupan geografis melintasi pulau-pulau. Dari Sabang sampai Merauke. Target utama: anak-anak dari keluarga prasejahtera.

Pemerintah Orde Baru menggerakkan berbagai pihak. Lembaga pendidikan dilibatkan. Organisasi masyarakat ikut andil. Koordinasi berjalan sistematis. Hasilnya, jutaan perut anak teriisi. Angka partisipasi sekolah naik. Prestasi akademis meningkat perlahan.

Mengapa Program PMTAS Terhenti di Tengah Jalan?

Tapi tak ada yang abadi. Krisis moneter 1997-1998 datang. Ekonomi Indonesia ambruk. Rupiah terjun bebas. Harga-harga melambung tinggi. Pemerintah kehabisan dana.

"Program ini jalan bertahap," jelas Hasan. "Mulai terhenti karena krisis ekonomi." Diikuti pergantian kekuasaan. Era reformasi tiba. Orde Baru runtuh. Prioritas berubah. Program-program lama terlupakan.

Hasan punya analisis menarik. Ia mengatakan, kalau tidak ada penggulingan kekuasaan, PMTAS mungkin masih jalan. "Kalau enggak ada penggulingan, mungkin program ini jalan terus," ucapnya. Terdengar seperti penyesalan. Atau kritik halus terhadap ketidakkonsistenan kebijakan.

Transisi politik memang sering memangkas kontinuitas. Program bagus sekalipun bisa mati. Karena ganti rezim. Karena ganti visi. Karena warisan penguasa lama dianggap tak relevan. PMTAS jadi korban dari fenomena itu.

Makan Bergizi Gratis: Gagas Lama, Kemasan Baru?

Halaman:

Editor: Muhammad Aqil Azizi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini