Apa Yang Salah Dengan Sistem Pengawasan Kapal Wisata?
Tenggelamnya Dewi Anjani menambah catatan buruk keselamatan maritim Labuan Bajo. Dalam beberapa tahun terakhir, insiden kapal wisata bermasalah kerap terjadi. Mulai dari kebakaran, kandas, hingga tenggelam.
Pola yang berulang menunjukkan ada celah besar dalam sistem pengawasan. Standar operasional prosedur (SOP) sepertinya hanya di atas kertas. Implementasi di lapangan lemah. Awak kapal yang seharusnya disiplin justru lalai total.
Pertanyaannya sederhana namun menohok: bagaimana mungkin seluruh ABK tertidur bersamaan? Siapa yang bertanggung jawab atas jadwal jaga malam? Apakah ada pelatihan keselamatan yang memadai? Atau ijin operasional kapal diberikan tanpa verifikasi ketat?
Labuan Bajo disebut sebagai destinasi super prioritas. Dana besar dikucurkan untuk pembangunan infrastruktur. Promosi wisata gencar dilakukan. Namun aspek paling mendasar—keselamatan wisatawan—justru terabaikan.
Apakah Insiden Ini Cerminan Masalah Lebih Luas?
Dewi Anjani bukan kasus tunggal. Di hari yang sama, kapal lain tenggelam di Selat Padar dengan korban jiwa. Dua insiden dalam satu waktu memperlihatkan rapuhnya sistem keselamatan maritim di kawasan itu.
Labuan Bajo memang destinasi impian. Pemandangan memukau. Komodo yang ikonik. Pantai pink yang memesona. Namun di balik pesona itu, ada risiko tersembunyi. Kapal-kapal wisata beroperasi tanpa pengawasan ketat. Awak kapal tanpa disiplin memadai. Standar keselamatan seakan hanya formalitas.
Wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, mempercayakan nyawa mereka pada kapal-kapal ini. Mereka membayar jutaan rupiah untuk pengalaman tak terlupakan. Namun apa jadinya jika kapal tenggelam di tengah laut? Apa yang terjadi jika tidak ada peralatan darurat memadai?
Insiden Dewi Anjani seharusnya menjadi peringatan keras. Bukan untuk dilupakan begitu saja setelah berita ini hilang dari pemberitaan.
Baca Juga: Sayap Bangkai Pesawat Melayang 100 Meter, Timpa Rumah Warga Akibat Puting Beliung di Bogor
Artikel Terkait
KKJ Sulteng Protes Keras Satgas BSH yang Dinilai Intervensi Kerja Jurnalistik
Jalan Berubah Jadi Sungai, Warga Dusun Suka Maju Tapsel Minta Bantuan Pembangunan Tanggul Darurat
Buranga, Ketika Alat Berat Lebih Berkuasa daripada Hukum
Tragedi Panti Werdha Damai Manado, 16 Lansia Tewas Terbakar di Gang Sempit, Evakuasi Terhambat Lokasi Berbahaya
Sayap Bangkai Pesawat Melayang 100 Meter, Timpa Rumah Warga Akibat Puting Beliung di Bogor