• Kamis, 4 Juni 2026

Ambulans Dari Morowali Dipaksa Putar Balik Usai Jalan Trans Sulawesi Luwu Dicor Massa

.
Nur Rafiqa, Sulawesi Today
- Sabtu, 24 Januari 2026 | 20:08 WIB
Aksi blokir jalan di Luwu demi tuntutan pemekaran Luwu Raya kian memanas. Massa mengecor jalan hingga memaksa ambulans pasien gawat darurat putar balik di Jembatan Baliase.
Aksi blokir jalan di Luwu demi tuntutan pemekaran Luwu Raya kian memanas. Massa mengecor jalan hingga memaksa ambulans pasien gawat darurat putar balik di Jembatan Baliase.

Sulawesitoday - Ambyar. Membacanya saja sudah sesak, apalagi membayangkan kejadiannya.

Ini bukan soal politik lagi. Ini soal nurani yang sepertinya ikut tertimbun semen di jalanan Luwu.

Bayangkan. Sebuah ambulans meraung-raung. Sirinenya membelah udara Sabtu kemarin. Di dalamnya, ada nyawa yang sedang dipertaruhkan. Pasien itu datang jauh-jauh dari Morowali Utara. Tujuannya satu: Makassar. Ke RS yang lebih lengkap. Ke harapan untuk sembuh.

Tapi apa yang terjadi di Jembatan Baliase?

Mobil itu dipaksa putar balik. Tidak boleh lewat. Titik. Padahal itu ambulans. Padahal ada nyawa di sana.

Alasannya? Perjuangan.

Massa yang tergabung dalam Aliansi Wija To Luwu sedang punya hajat besar. Mereka menuntut pemekaran. Mereka ingin ada Provinsi Luwu Raya. Mereka ingin Kabupaten Luwu Tengah segera lahir.

Maka, Jalan Trans Sulawesi pun jadi sasaran. Sejak Jumat, jalanan di Larompong Selatan sudah "disulap". Bukan sekadar dipalang kendaraan atau ban bekas yang dibakar. Ini lebih serius: dicor.

Warga, mahasiswa, bahkan ibu-ibu turun tangan. Mereka gotong royong angkat batu dan pasir. Membuat pondasi di tengah jalan poros. Mereka ingin pusat mendengar. Mereka ingin Presiden Prabowo Subianto mencabut moratorium Daerah Otonomi Baru (DOB).

"Kami tidak anarkis," kata Rizal, salah satu peserta aksi. "Ini perlawanan simbolik."

Mungkin benar, secara fisik mereka tidak merusak gedung atau menjarah toko. Tapi, ketika sebuah ambulans yang membawa orang sekarat dilarang melintas, apakah itu masih bisa disebut "tidak anarkis"?

Saya sangat paham aspirasi itu. Luwu Raya memang luas. Potensinya raksasa. Pelayanan publik memang sering kali terasa jauh bagi warga di pelosok. Keadilan pembangunan memang harus diperjuangkan.

Tapi, haruskah nyawa sesama warga Sulteng atau Sulsel jadi taruhannya?

Logikanya sederhana: Anda ingin membangun daerah untuk menyejahterakan manusia. Tapi dalam prosesnya, Anda justru menghambat manusia lain yang sedang berjuang untuk tetap hidup.

Halaman:

Editor: Nur Rafiqa

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini