Sulawesitoday - Pelabuhan Passarang di Banggae, Majene, biasanya tak terlalu riuh. Tapi Minggu tadi (12/4) suasananya beda. Ada KM Sabuk Nusantara 93 yang bersandar di sana. Kapal perintis ini bukan sekadar alat angkut. Ia adalah urat nadi. Nyawa bagi mobilitas pesisir.
Tercatat ada 308 penumpang yang naik. Itu angka yang serius. Rinciannya: 259 dewasa, 44 anak-anak, dan 5 bayi. Bayangkan. Lima bayi harus mengarungi lautan menuju Pelabuhan Silopo, Polman.
Di tengah kerumunan itu, Iptu Armin nampak sibuk. Kasat Polair Polres Majene ini tidak mau ambil risiko. Ia tahu benar, urusan laut tidak bisa main-main. Sedikit saja teledor, nyawa taruhannya. Maka, pengamanan pun diperketat. Polisi air turun penuh.
"Kita pastikan semua sesuai prosedur. Jangan ada barang terlarang, jangan ada muatan berlebih," ujar Armin di sela-sela pemeriksaan manifes.
Polisi tidak sendirian di dermaga. Ada Syahbandar Majene. Ada orang-orang PT Pelni dari Parepare. Sampai petugas karantina hewan pun ikut nimbrung. Sinergi itu memang mudah diucapkan, tapi sulit dipraktekan. Beruntung, di Passarang hari ini, sinergi itu nampak nyata.
Pemeriksaan barang bawaan dilakukan teliti. Tas-tas besar dibuka. Karung-karung dicek. Ini bukan soal curiga, tapi soal keselamatan pelayaran. Petugas juga cerewet soal fasilitas keselamatan. Penumpang diingatkan berkali-kali soal letak pelampung. Memang harus begitu. Lebih baik cerewet di darat daripada menyesal di tengah laut.
Ada sedikit hambatan kecil saat antrean memanjang, tapi semua bisa diatasi. Petugas di lapangan nampak sigap mengatur arus manusia agar tidak berdesakan di tangga kapal. Maklum, jumlah penumpang sebanyak itu di pelabuhan kecil butuh manejemen yang apik.
Akhirnya, KM Sabuk Nusantara 93 itu pun lepas tali. Mesinnya menderu, perlahan meninggalkan dermaga Passarang. Perjalanan menuju Polewali Mandar dimulai. Semua berjalan aman, tertib, dan lancar.
Iptu Armin hanya bisa menarik nafas lega melihat kapal itu menjauh. Satu tugas selesai, tapi besok-besok pengawasan tetap tak boleh kendor. Begitulah dinamika di pelabuhan. Selalu ada cerita di balik manifes penumpang. Dan keselamatan adalah harga mati yang tak bisa ditawar.
Kisah Heroik Guru di Majene, Sisihkan Gaji Setiap Bulan Jadi Donatur Transportasi Murid
Artikel Terkait
Bocah 4 Tahun Tewas Tertimpa Trembesi di Kampal, Warga: Laporan Kami Diabaikan DLH!
Iuran BPJS Ketenagakerjaan Parigi Moutong Diskon 50 Persen, Marbot Masjid Kini Terlindungi
Investasi di 2026, Ini Strategi Parigi Moutong Ubah Potensi Alam Menjadi Uang Nyata
Anak Tak Terlindas, Ini Fakta di Balik Video Viral Ibu Peluk Ban Mobil SPPG Indramayu
Kisah Heroik Guru di Majene, Sisihkan Gaji Setiap Bulan Jadi Donatur Transportasi Murid