View this post on Instagram
Sulawesitoday - Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 6,7 yang mengguncang Sulawesi Tengah pada Selasa, 16 Juni 2026, memicu perdebatan sengit di kalangan fungsionaris seismologi karena karakternya yang membingungkan.
Terlihat ada ketidaksesuaian antara identifikasi awal patahan dengan sebaran gempa susulan yang terus terekam di lapangan.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika awalnya mendeteksi guncangan besar ini bersumber dari aktivitas Sesar Sausu.
Sesar Sausu merupakan patahan aktif sepanjang puluhan kilometer yang membelah daratan Sulawesi Tengah.
Namun, rekaman sensor mendeteksi puluhan kali gempa susulan justru menumpuk di sekitar kawasan Sesar Palolo Segmen A.
Fenomena ini mengejutkan para ahli.
Titik-titik getaran baru terus muncul dan membentuk garis memanjang yang konsisten mengikuti zona patahan tetangga.
Mekanisme sumber runtuhan juga menunjukkan karakter sesar turun yang menciptakan gaya regangan besar pada kulit bumi.
Baca Juga: Gempa M 6,7 Guncang Palu Hari Ini, Ada Sembilan Kali Susulan
Sifat geologi ini sangat unik.
Sesar Sausu selama ini murni bertipe geser dan sangat jarang memicu pergerakan amblesan tanah.
Sebaliknya, karakter amblesan atau gaya regangan vertikal seperti ini sangat identik dengan bentang alam Palolo Graben.
Kondisi membingungkan ini langsung mengingatkan para peneliti pada memori kelam Gempa Poso berkekuatan magnitudo 6,6 sembilan tahun silam.
Pola patahan kali ini sangat mirip dengan peristiwa tahun 2017 yang merusak kawasan pemukiman di sekitar hulu sungai.
Artikel Terkait
Cetak Sawah Baru Rp10 Miliar di Parigi Moutong Terancam Tambang Emas Ilegal
Ratusan Kepsek Sulsel Dipaksa Mundur, Netizen Desak Audit Dana BOS Menyeluruh
Rencana Kompor Listrik Bahlil Dihujat Netizen, Warga: Listrik Sering Padam Mau Ngandalin Setrum?
Netizen Curiga Insentif Pejabat Tetap Cair Saat Program Makan Bergizi Gratis Dihentikan Sementara
Gempa M 6,7 Guncang Palu Hari Ini, Ada Sembilan Kali Susulan