Sulawesitoday - Dalam sebuah momen memilukan di perairan Bulungan, Kalimantan Utara, tim SAR menemukan dua jasad bocah tewas tenggelam yang telah lama hilang. Temuan ini menambah deretan tragedi speedboat tenggelam yang menggemparkan masyarakat setempat.
Identitas korban segera diketahui sebagai Azka, 6 tahun, dan Dafit, 7 tahun, yang kini telah ditemukan terapung di dua lokasi berbeda. Kejadian ini menciptakan kesedihan mendalam, menandai hari-hari penuh duka bagi keluarga dan warga sekitar, terutama setelah mereka telah hilang selama tiga hari.
Penemuan jasad berlangsung pada siang hari Kamis dengan Dafit ditemukan di sekitar Kampung Salangketto dan Azka di aliran Sungai Tudan. Waktu penemuan masing-masing terjadi pada pukul 14.20 WITA dan 15.15 WITA, menandai jarak yang cukup jauh dari titik kecelakaan.
Menurut Iptu Alexander Evan, Kasat Polair Polresta Bulungan, lokasi penemuan jaraknya mencapai 9 kilometer dan 17 kilometer dari titik kejadian. Pada Jumat (14/2/2025) beliau menegaskan bahwa pencarian dilakukan dengan intensitas tinggi oleh tim SAR dan masyarakat.
Insiden tragis ini terjadi setelah speedboat yang mengangkut 51 tamu undangan pernikahan mengalami kecelakaan fatal. Kejadian yang bermula dari dugaan tabrakan dengan kayu membuat speedboat oleng dan segera tenggelam di perairan Sungai Kayan.
Peristiwa tersebut telah menelan korban jiwa sebanyak enam orang dan menyebabkan satu orang dinyatakan hilang, sementara 44 penumpang berhasil dievakuasi dalam kondisi aman. Hal ini menimbulkan pertanyaan mendalam tentang keselamatan transportasi laut di wilayah tersebut.
Di tengah proses investigasi, tim SAR masih gencar mencari korban lain yang hilang sejak kecelakaan tersebut. Hingga kini, enam jasad korban speedboat Iqza Express telah ditemukan di berbagai titik perairan Bulungan.
Baca Juga: Kasus Pemerasan di Polres Bangkep, Kapolres dan 4 Anggota Diperiksa di Jakarta
Kedua jasad bocah tewas tenggelam telah segera dibawa ke RSUD Soemarno Sosroatmodjo Tanjung Selor untuk proses selanjutnya. Proses perawatan jenazah, termasuk pemalsuman, dijadwalkan sebelum korban dibawa ke rumah duka, memberi kesempatan keluarga berpamitan secara layak.
Kisah tragis ini mengundang kita untuk bertanya, bagaimana bisa kecelakaan serupa terus terjadi di perairan kita? Pengalaman dan data tersebut seharusnya menjadi pelajaran penting bagi penyelenggara transportasi laut untuk meningkatkan prosedur keamanan.
Peristiwa ini juga mengingatkan kita akan kerentanan anak-anak dalam menghadapi bencana yang tidak terduga. Masyarakat dan pihak berwenang diharapkan bersama-sama mencari solusi agar tragedi bocah tewas tenggelam tidak terulang lagi di masa depan.
Ayo Gabung di Channel WhatsApp Sulawesitoday! Dapatkan update informasi dan berita terbaru di https://bit.ly/WAchanelSulawesitoday.
Jangan Ketinggalan Berita Eksklusif Lainnya! Berita Eksklusif Lainnya! Yuk, cek langsung di Google News Sulawesitoday.
Artikel Terkait
Tarif Listrik Maret 2025 per kWh Bagi Pelanggan PLN di Sulteng Sudah Ditetapkan
Langkah Tepat Atasi Pengisian Token Listrik yang Tidak Berfungsi bagi Pelanggan PLN di Sulteng
Longsor Terjang Desa Loli Saluran Donggala, Warga Panik dan Mengungsi
Beasiswa KIP Kuliah Tetap Berjalan Meski Ada Efisiensi Anggaran, Mahasiswa di Sulteng Bernafas Lega
Kasus Pemerasan di Polres Bangkep, Kapolres dan 4 Anggota Diperiksa di Jakarta