berita

Dari Cimahpar ke Sekolah-Sekolah Kusam, Presiden Membawa PHTC dan Mimpi Lama

Jumat, 2 Mei 2025 | 12:53 WIB
Prabowo hadir di Hardiknas. Bawa PHTC, janji renovasi 10 ribu sekolah, dan duit untuk guru. Tapi, janji bukan jaminan. Kita simak baik-baik.

Sulawesitoday - Ada yang menarik di SDN Cimahpar 5 siang tadi. Bukan karena anak-anaknya, bukan juga karena paduan suara menyanyikan “Hymne Guru” dengan suara setengah gemetar. Tapi karena Presiden datang, lengkap dengan rombongan, kamera, dan janji.

Jumat, 2 Mei 2025. Prabowo Subianto berdiri di hadapan para guru dan pejabat pendidikan, membawa apa yang disebutnya sebagai Program Hasil Terbaik Cepat—PHTC, sebuah paket kebijakan serba instan yang, konon, diracik untuk menyulap wajah pendidikan dalam waktu singkat.

Apakah ini program? Atau sekadar pengumuman yang dijilid rapi dan diberi nama keren? Kita lihat.

Isi PHTC tampaknya menjanjikan. Ada Rp300 ribu per bulan untuk guru honorer—angka yang, jika dibandingkan dengan harga sekarung beras, ya… cukup buat bertahan.

Lalu ada beasiswa Rp3 juta per semester untuk para guru yang belum sempat menyelesaikan S1.

Masih ada juga rencana renovasi 10.440 sekolah, dan distribusi smart classroom ke 15.000 titik. Lengkap. Nyaris seperti brosur pembangunan kota impian.

Menteri Abdul Mu’ti menyebut ini sebagai bentuk nyata perhatian negara.

Tapi kita tahu, perhatian bisa datang sekejap dan hilang perlahan. Sama seperti papan tulis yang penuh janji, tapi kapurnya cepat habis.

Program ini, bila benar dijalankan, bisa jadi lembar baru bagi sistem pendidikan yang terlalu lama ditulis dengan tangan kiri. Tapi, publik juga punya memori.

Mereka tahu bahwa angka dan rencana besar pernah mampir di peringatan Hardiknas sebelumnya—dan tak semuanya lahir sebagai kenyataan.

Prabowo mungkin tak ingin sekadar dikenang sebagai Presiden yang hadir di sekolah dasar. Ia ingin lebih dari itu: diingat sebagai Presiden yang mengubah cara kita memandang guru, sekolah, dan mimpi anak-anak pelosok.

Baca Juga: Kandungan Porcine di Produk Bersertifikat Halal, MUI Soroti Titik Lemah Sistem Jaminan

Tapi antara ingin dan jadi, selalu ada jalan terjal. Dan terkadang, jalan itu butuh lebih dari sekadar PHTC.

Karena pendidikan bukan sprint. Ia maraton panjang, dengan guru sebagai pelari yang tak pernah berhenti walau sering tak diberi minum.

Terkini