Sulawesitoday - Operasi Patuh Tinombala Tutup Buku, Angka Pelanggaran Lalu Lintas Merosot 27 PersenBagaimana hasil Operasi Patuh Tinombala 2025 yang baru saja berakhir? Jawabannya cukup menggembirakan - pelanggaran lalu lintas di Sulawesi Tengah berhasil ditekan hingga 27 persen dibanding tahun sebelumnya.
Operasi yang berlangsung selama 14 hari penuh ini resmi ditutup pada Minggu malam (27/7/2025) pukul 24.00 Wita, meninggalkan catatan positif bagi ketertiban lalu lintas di Bumi Kaili.
Pelaksana harian Kabidhumas Polda Sulteng, AKBP Sugeng Lestari, menyampaikan bahwa angka pelanggaran tahun ini mencapai 28.427 kasus. Bandingkan dengan tahun lalu yang menembus angka 38.943 kasus - selisihnya bagaikan langit dan bumi.
"Penurunan ini tidak main-main, turun 27 persen dari tahun sebelumnya. Ini menunjukan kesadaran masyarakat mulai membaik," ungkap Sugeng di Palu, Senin (28/7/2025).
-
Detail Pelanggaran yang Tercatat
Dari total pelanggaran tersebut, teknologi e-tle statis mencatat 2.358 kasus, e-tle mobile 2.095 kasus, e-tilang 756 kasus, dan yang paling banyak adalah pemberian surat teguran dengan 23.216 pelanggar.
Seperti yang sudah bisa ditebak, kendaraan roda dua masih menjadi "juara" dalam hal pelanggaran dengan 3.076 kasus. Dari jumlah itu, tidak memakai helm SNI mendominasi dengan 2.832 pelanggar - sebuah angka yang cukup memprihatinkan mengingat helm adalah "nyawa" bagi pengendara motor.
Pelanggaran lainnya meliputi melawan arus 45 kasus, menggunakan ponsel saat berkendara 3 kasus, berkendara di bawah umur 11 kasus, berboncengan lebih dari satu 9 kasus, dan yang paling ekstrem adalah berkendara dalam pengaruh alkohol dengan 1 kasus.
Tak ketinggalan, kendaraan roda empat juga menyumbang 2.133 pelanggaran. Yang paling mencolok adalah tidak menggunakan sabuk pengaman dengan 2.020 kasus - hampir seperti bermain dengan nyawa sendiri.
-
Kecelakaan Justru Naik
Meski pelanggaran turun, ironisnya angka kecelakaan justru mengalami kenaikan. Tahun ini tercatat 37 kasus kecelakaan, naik dari 33 kasus di tahun 2024 atau meningkat 12 persen.
Tragisnya, 6 jiwa melayang, 22 orang mengalami luka berat, 46 luka ringan, dengan kerugian material mencapai Rp 146,4 juta.
Sepeda motor kembali menjadi kendaraan yang paling sering terlibat kecelakaan dengan 45 unit, diikuti mobil penumpang dan mobil barang masing-masing 8 unit, bus 2 unit, serta kendaraan khusus 3 unit.
Berdasarkan lokasi kejadian, jalan provinsi menjadi yang tertinggi dengan 15 kasus, jalan nasional 12 kasus, dan jalan kabupaten/kota 10 kasus.F
-
Faktor Manusia Masih Dominan
Analisis penyebab kecelakaan menunjukkan bahwa faktor manusia masih menjadi dalang utama. Mendahului, berbelok, atau pindah jalur sembarangan mencatat 11 kasus tertinggi, disusul melanggar batas kecepatan 6 kasus, dan tidak menjaga jarak 5 kasus.
"Ini seperti benang kusut yang harus kita urai bersama. Teknologi canggih tidak akan berarti apa-apa jika kesadaran berlalu lintas masih rendah," terang Sugeng.