• Mengakomodasi kearifan lokal - Mengintegrasikan bahan pangan lokal dalam menu, seperti ikan kuah asam di Papua atau kapurung di Sulawesi
Seperti kata pepatah. Behind every successful program. There's a dedicated nutritionist. Mereka adalah garda terdepan. Dalam memastikan setiap suapan. Yang masuk ke mulut. Anak-anak Indonesia. Benar-benar bergizi dan aman.
-
Apa yang Dikritik Komisi IX DPR?
Namun cerita indah ini. Mendapat noda hitam. Ketika Komisi IX DPR. Melayangkan kritik pedas. Terhadap implementasi program MBG.
Kritik pertama menyasar. Lemahnya pengawasan kualitas makanan. Kasus keracunan makanan. Masih terjadi di beberapa lokasi. Makanan berulat dan nasi keras. Menjadi temuan mengejutkan. Di lapangan.
"Ini bukan soal niat baik," ujar salah satu anggota DPR. "Tapi soal implementasi. Yang masih carut-marut."
Kritik kedua lebih tajam lagi. Menyoal pemenuhan standar gizi. Dr. Tan Shot Yen. Ahli gizi masyarakat terkemuka. Mengkritik menu seperti burger. Dan spageti yang disajikan. "Menu ini tidak sesuai. Dengan kebutuhan anak Indonesia," tegasnya.
Ultra processed food. Atau makanan olahan kemasan. Juga menjadi sorotan. Padahal seharusnya program ini. Mengutamakan makanan segar. Dan berbasis pangan lokal.
Yang lebih memprihatinkan. Adanya fenomena "kastanisasi". Dimana daerah dekat pusat. Mendapat menu berkualitas tinggi. Sementara daerah terpencil. Hanya mendapat makanan. Berkualitas rendah.
-
Bagaimana dengan Dugaan SPPG Fiktif?
Pertanyaan ini mencuat. Ketika Anggota Komisi IX. Nurhadi mencurigai. Adanya ribuan titik dapur. Yang terdaftar namun fiktif.
"Banyak SPPG yang terdaftar. Tapi pembangunan fisiknya. Tidak menunjukkan progres," ungkapnya. Kritik ini menyoroti. Lemahnya mekanisme verifikasi. Dan pengawasan di lapangan.
Beberapa dapur bahkan. Dibangun secara asal-asalan. Tidak sesuai dengan ketentuan. Terutama yang dikelola. Oleh yayasan bermodal terbatas.
Focus pada kuantitas. Bukan kualitas. Menjadi permasalahan utama. Badan Gizi Nasional. Terlalu mengejar target. Jumlah dapur SPPG. Tanpa memperhatikan standar mutu. Dan keamanan yang ketat.
-
Tantangan Apa yang Dihadapi di Lapangan?
Realita di lapangan. Memang tidak selalu. Seindah yang dibayangkan. Kasus di Bangkalan. Menjadi cermin permasalahan. Yang lebih luas.
Di sana ahli gizi. Yang bertugas masih. Fresh graduate tanpa pelatihan. Yang memadai. Hal ini berkontribusi. Pada masalah kualitas makanan. Yang tidak terkontrol.
Koordinasi antar SPPG. Juga masih lemah. Sistem keamanan pangan. Seperti HACCP belum. Diterapkan secara konsisten. Untuk mencegah kontaminasi. Dan keracunan makanan.