Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Jules Abraham Abast, memberikan sinyal. "Kami masih menunggu SAR selesai," katanya Senin malam, 6 Oktober. Lokasi harus clear dulu. Baru penegakan hukum jalan.
"Pasti kami melangkah," tegasnya. Namun timing harus tepat. Fokus awal adalah penyelamatan. Bukan investigasi kriminal.
Jules meminta publik bersabar. Keadilan butuh proses. Tidak bisa tergesa-gesa. Tim penyidik sudah standby sejak hari pertama.
Pertanyaan besarnya sederhana. Siapa yang bertanggung jawab? Apakah ada kelalaian? Mengapa struktur ambruk saat pengecoran? Investigasi akan menjawabnya.
-
Bagaimana Kronologi Kejadian Sebenarnya?
Waktu Ashar, 29 September 2025. Para santri berbaris rapi. Lantai dasar, lantai satu, lantai dua, lantai tiga penuh jemaah. Di atas mereka, lantai empat sedang dikerjakan.
"Luas area salat sekitar 140 jemaah," papar Syafii. Bangunan itu dirancang empat lantai. Tiga lantai bawah sudah beroperasi. Lantai paling atas masih konstruksi.
Pada saat pengecoran, sesuatu terjadi. Struktur tak mampu menahan beban. Kekuatan material kalah dari gravitasi. Dalam hitungan detik, empat lantai itu kolaps bersamaan.
Basarnas menyebutnya "pancake collapse." Istilah teknis untuk keruntuhan bertumpuk. Lantai empat jatuh ke lantai tiga. Lantai tiga menghantam lantai dua. Begitu seterusnya. Semuanya menyatu dalam satu tumpukan beton raksasa.
Bayangkan empat kue lapis ditekan jadi satu. Begitulah gambaran reruntuhan itu. Para santri terjepit di berbagai lapisan. Evakuasi menjadi sangat kompleks.
Tim SAR harus memilah beton dengan hati-hati. Setiap potongan baja dipotong presisi. Takut melukai korban yang mungkin masih hidup. Prosesnya melelahkan. Sembilan hari terasa seperti sembilan bulan.
Baca Juga: Ponpes Al Khoziny: 52 Meninggal, 14 Hilang, Gedung Miring Hambat Evakuasi - Ahli ITS Dilibatkan