Apa Untungnya untuk Nelayan Kita?
Pertanyaan paling krusial. Apa manfaat konkret proyek triliunan ini?
Trenggono menjanjikan banyak. Pertama, pengawasan lebih efektif. Data real-time memudahkan deteksi. Kapal asing yang mencuri ikan bakal ketahuan cepat. Nelayan lokal terlindungi.
Kedua, peningkatan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Sektor kelautan dan perikanan punya potensi besar. Dengan pengawasan ketat, kebocoran berkurang. PNBP meningkat.
Ketiga, kesejahteraan masyarakat pesisir. Ini yang paling fundamental. Nelayan tradisional sering jadi korban. Kapal asing lebih canggih. Mereka mengeruk ikan di teritorial kita. Nelayan lokal gigit jari.
Sistem pengawasan terpadu diharapkan mengubah situasi. Drone memantau dari udara. Kapal patroli menjangkau lebih luas. Pusat komando mengkoordinasi respons cepat. Nelayan kecil dapat perlindungan lebih baik.
Tapi sekali lagi, ini masih janji. Realisasi di lapangan yang menentukan. Teknologi canggih tanpa eksekusi tepat tetap sia-sia.
Persetujuan DPR dengan Syarat Ketat
Rapat kerja Komisi IV DPR menghasilkan keputusan. Mereka menyetujui usulan tambahan anggaran. Rp 2 triliun untuk tahun 2025. Sumber dananya dari pinjaman luar negeri.
Tapi persetujuan itu tak tanpa syarat. DPR menekankan beberapa hal. Pelaksanaan harus transparan. Sesuai ketentuan perundang-undangan. Target waktu tidak boleh meleset.
Anggota Komisi IV tahu risikonya. Proyek besar sering bermasalah. Anggaran membengkak. Timeline molor. Hasilnya mengecewakan. Mereka tak mau kejadian serupa terulang.
Pengawasan ketat akan dilakukan. Komisi IV berkomitmen monitor berkala. Laporan progres wajib disampaikan rutin. Transparansi jadi kunci.
KKP di bawah Trenggono kini punya PR besar. Rp 5,8 triliun bukan angka main-main. Rakyat berharap uang itu dikelola profesional. Proyek harus tepat waktu. Tepat sasaran. Memberikan manfaat nyata.
Baca Juga: Prabowo Bantah Tegas Isu Dikendalikan Jokowi, Sindir Budaya Politik Buruk Indonesia