Pakar telematika ini mengajak tujuh tersangka lain tetap tegar. Ia sebut ini perjuangan bersama rakyat. Kebebasan meneliti dokumen publik jadi taruhannya. "Jangan sampai dikriminalisasi," tegasnya.
Roy juga pastikan belum ada perintah penahanan. Diskusi dengan tim hukum sudah dilakukan. Prinsip keilmiahan tetap dipegangnya. "Ini bukan soal kecewa," jelasnya. "Soal ilmiah atau tidak. Adil atau tidak."
Bagaimana Rismon Sianipar Merespons?
Ahli forensik digital ini paling tegas. Rismon Hasiholan Sianipar menolak tuduhan manipulasi. Ia keberatan disebut edit dokumen ijazah. Argumennya cukup kuat.
"Kami tidak terima tuduhan edit ijazah Jokowi," ujar Rismon dalam pernyataan resminya, Jumat lalu. "Sementara ijazah aslinya tak pernah ditunjukan." Logika sederhana namun menohok.
Rismon tekankan analisisnya berdasar data terbuka. Ruang publik jadi sumber penelitiannya. Bukti fisik ijazah asli tak pernah diperlihatkan publik. Bagaimana bisa dituduh memanipulasi yang tak pernah ada?
"Soal pemeriksaan tersangka, saya pasti datang," tandasnya. Tak ada keraguan. "Tunggu panggilan saja."
Mengapa Kasus Ini Jadi Sorotan?
Kasus ini menyeret nama presiden. Itu fakta pertama. Tudingan ijazah palsu bukan hal remeh. Kredibilitas pemimpin negara dipertaruhkan.
Namun, ada dimensi lain yang lebih dalam. Perdebatan kebebasan berekspresi versus pencemaran nama baik. Batas antara kritik dan fitnah jadi kabur. Penelitian digital versus manipulasi informasi.
Delapan tersangka dengan latar belakang beragam. Aktivis, dokter, pakar telematika. Semua kini berhadapan dengan hukum. Pasal-pasal pidana siap menanti mereka.
Yang menarik, tiga tokoh publik menunjukan sikap berbeda. Dr. Tifa pasrah pada proses hukum. Roy Suryo santai sambil tersenyum. Rismon Sianipar menantang dengan logika tajam. Tiga karakter, tiga respons, satu kasus.
Polisi sudah bertindak tegas. Penetapan tersangka sudah dilakukan. Pasal-pasal sudah disiapkan. Tinggal menunggu proses selanjutnya bergulir.
Apa Yang Akan Terjadi Selanjutnya?
Proses hukum akan terus berjalan. Pemeriksaan intensif menanti para tersangka. Mereka dipanggil satu per satu. Klarifikasi dan pembuktian jadi agenda utama.