berita

Hari Ketiga Longsor Majenang: 12 Jiwa Masih Terperangkap Lumpur Cilacap

Minggu, 16 November 2025 | 11:22 WIB
Longsor Cilacap hari ketiga: 12 korban masih hilang. BNPB siapkan huntara, modifikasi cuaca jadi andalan. Presiden Prabowo beri arahan.

Sulawesitoday - Lumpur masih menyimpan rahasia. Tiga hari berlalu sejak tanah longsor menerjang Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap pada Kamis malam lalu. Tim gabungan SAR kini berpacu dengan waktu. Dua belas orang masih menunggu. Mereka terperangkap di bawah material longsor yang kian padat.

Direktur Operasional Basarnas, Laksamana Pertama Yudhi Bramantyo, menyampaikan kabar terkini dalam konferensi pers di lokasi bencana, Sabtu sore (15/11/2025). Hingga petang itu, delapan orang berhasil dievakuasi. Mereka adalah survivor. "Total 11 orang sudah kami evakuasi dari 23 korban yang kami cari," ungkap Bramantyo. Matanya menatap tajam. "Masih ada 12 beban kami."

Angka itu berat. Dua belas nyawa menanti keajaiban.

  • Huntara dan Huntap: Apa Solusi BNPB untuk Korban Terdampak?

Evakuasi tak hanya soal mencari korban hilang. Ratusan jiwa lain kehilangan tempat tinggal. Mereka butuh perlindungan segera. Kepala Pelaksana Harian BPBD Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan, mengonfirmasi kerja sama dengan BNPB telah berjalan. Relokasi korban segera dimulai.

"Pemda menyiapkan lahan," kata Bergas tegas. "BNPB menyediakan huntara." Hunian sementara itu bukan sembarangan. Korban bisa menempatinya dua tahun. Setelah tahun pertama, Pemkab Cilacap dapat mengajukan huntap—hunian tetap—ke BNPB.

Bergas menjamin kualitasnya. "Ini rumah tumbuh. Besar dan sangat manusiawi," imbuhnya dengan nada meyakinkan. Tapi pertanyaannya: apakah dua tahun cukup? Apakah janji huntap akan terwujud? Warga yang kehilangan segalanya pasti berharap lebih dari sekadar komitmen.

  • Modifikasi Cuaca: Senjata Ampuh Tim SAR Minggu Ini?

Cuaca menjadi musuh terbesar pencarian. Hujan terus mengguyur Majenang sejak tragedi terjadi. Material longsor kian licin. Bahaya susulan mengancam. Tim SAR hanya bekerja sembilan jam sehari—dari pukul 07.00 hingga 16.00 WIB. Terlalu singkat untuk pencarian massal.

Solusinya: modifikasi cuaca. Bergas mengumumkan pesawat khusus berangkat dari Halim Perdanakusuma, Jakarta, pada Minggu pagi (16/11/2025). Pesawat itu transit ke Bandung sebelum menuju Cilacap. Teknologi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) diharapkan meredam intensitas hujan. "Dengan ini, kami bisa bekerja maksimal," ujar Bergas optimis. "Mulai pukul 06.00 sampai 18.00 WIB."

Dua belas jam penuh. Target ambisius ditetapkan: pencarian selesai hari ini. Tapi apakah teknologi cukup melawan alam?

  • Kendala Lapangan: Mengapa Evakuasi Begitu Sulit?

Bayangkan bekerja di atas timbunan tanah yang sewaktu-waktu bisa bergerak lagi. Itulah realita tim SAR setiap hari. Bergas menjelaskan kondisi lapangan dengan gamblang. "Daerah terdampak adalah tanah longsoran," katanya. "Harus sangat hati-hati."

Setiap tetes hujan menambah risiko. Tanah menjadi lembek. Stabilitas hilang. Tim terpaksa menghentikan operasi bila cuaca memburuk. "Situasinya di lapangan begitu," papar Bergas dengan nada realistis. Keselamatan penyelamat juga prioritas. Tak ada yang ingin menambah korban.

Zona merah terus bergeser. Alat berat kesulitan masuk. Pencarian manual dengan tangan kosong menjadi andalan. Ironis, di era teknologi canggih, manusia kembali pada cara primitif.

  • Perintah Presiden: Seberapa Serius Negara Menangani Ini?

Presiden Prabowo Subianto tak tinggal diam. Sejak hari pertama, perhatiannya tertuju ke Majenang. Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB, Mayjen TNI Budi Irawan, menyampaikan pesan langsung dari istana pada Jumat (14/11/2025). "Presiden turut berduka," ujar Budi. "Beliau memerintahkan BNPB bergerak maksimal."

Arahan jelas diberikan: penanganan berlanjut hingga masa tanggap darurat usai. Bukan sekadar formalitas. Klaster kebencanaan dan pos lapangan sudah berdiri di lokasi. Dapur umum melayani warga dan tim SAR. Pos kesehatan gratis juga beroperasi.

Halaman:

Tags

Terkini