berita

Yanuar Rizky Bedah Kemiripan Purbaya dan Sri Mulyani, Popularitas Awal Bisa Jadi Bumerang Jika Salah Kelola

Minggu, 16 November 2025 | 12:23 WIB
Pengamat keuangan ingatkan Purbaya belajar dari Sri Mulyani 2005. Popularitas awal bisa jadi bumerang jika tak jaga kelas menengah.
  • Pelajaran dari Dua Dekade Lalu

Pengalaman Sri Mulyani menawarkan pelajaran berharga. Kehebatan teknis saja tak cukup. Popularitas awal bisa menjadi bumerang. Dukungan publik perlu dijaga lewat kebijakan yang inklusif. Komunikasi yang membumi menjadi kunci.

Purbaya memiliki kesempatan emas. Ia bisa belajar dari kesalahan pendahulunya. Menjaga profesionalisme tanpa terperosok ke ranah politik praktis. Membangun kebijakan yang tidak hanya terdengar bagus di ruang rapat, tapi juga dirasakan manfaatnya oleh rakyat kecil dan kelas menengah.

Pertanyaan besarnya: apakah Purbaya akan mengulangi siklus yang sama? Ataukah ia mampu memecahkan lingkaran setan popularitas-kekecewaan yang menghantui para Menteri Keuangan sebelumnya? Hanya waktu yang akan menjawab. Namun peringatan Yanuar setidaknya menjadi alarm dini. Sebuah pengingat bahwa sejarah cenderung berulang bagi mereka yang tak mau belajar darinya.

Di tengah euforia atas sosok baru, publik perlu tetap kritis. Memberikan ruang kerja, namun tidak melupakan fungsi kontrol. Mendukung profesionalisme, namun menolak politisasi jabatan. Hanya dengan cara inilah konsep zaken kabinet yang sesungguhnya bisa terwujud. Dan hanya dengan begitu, Indonesia bisa keluar dari lingkaran setan yang sama: menerima figur baru dengan euforia, lalu menolaknya dengan kekecewaan beberapa tahun kemudian.

Purbaya Yudhi Sadewa kini berdiri di persimpangan sejarah. Jalan yang dipilihnya akan menentukan apakah namanya akan dikenang sebagai reformator sejati, atau sekadar repetisi dari pola lama yang tak pernah usai.

Baca Juga: Menkeu Purbaya Sebut Titik Ekonomi yang Dijanjikan Jokowi untuk Whoosh Belum Terwujud

Halaman:

Tags

Terkini