Sulawesitoday - Aceh kembali berduka. Banjir bandang melanda 18 kabupaten. Tanah longsor menelan korban jiwa. November 2025 mencatat sejarah kelam baru.
Bencana ini bukan sekadar banjir biasa. Warga Aceh menyebutnya "tsunami kedua". Trauma kolektif 2004 bangkit kembali. Air datang tiba-tiba, garang, menghancurkan segalanya.
Presiden Prabowo Subianto mendarat di Bandara Sultan Iskandar Muda pada Minggu, 7 Desember 2025. Kunjungan ini bukan seremonial belaka. Kepala Negara datang dengan misi konkret: memastikan penanganan bencana berjalan cepat dan tepat sasaran.
Sehari sebelumnya, Sabtu 6 Desember, Prabowo memimpin rapat terbatas di kediamannya, Hambalang. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengkonfirmasi fokus rapat tersebut. "Percepatan penanganan bencana di Sumatera," tegasnya.
Bukan hanya Aceh yang lumpuh. Sumatera Utara dan Sumatera Barat juga terdampak parah. Jalan terputus, jembatan ambruk, listrik padam. Ratusan ribu warga terisolasi tanpa akses bantuan.
Apa Arahan Konkret Prabowo untuk Aceh?
Dalam rapat Hambalang itu, Prabowo memberikan instruksi tegas. Daerah terisolasi jadi prioritas utama. Tidak boleh ada warga terlupakan.
"Bapak Presiden ingin laporan mutakhir," ujar Prasetyo. "Update dari seluruh jajaran mengenai tanggap darurat."
Prabowo meminta percepatan pemulihan jalur darat. Ruas jalan yang rusak harus segera diperbaiki. Jembatan yang ambruk mesti dibangun kembali, setidaknya secara darurat.
Distribusi BBM juga jadi sorotan tajam. Beberapa jalur terputus total, suplai bahan bakar terhambat. "Presiden langsung berikan petunjuk untuk mempercepat," tambah Prasetyo.
Listrik jadi perhatian krusial lainnya. Direktur Utama PLN turut hadir dalam rapat tersebut. Prabowo memberi tenggat tegas: dua hari. "Seluruh wilayah di tiga provinsi harus terang kembali," demikian arahannya.
Internet pun tak luput dari perhatian. Di era digital ini, koneksi internet bukan lagi kemewahan. Komunikasi darurat sangat bergantung padanya.
Prasetyo menambahkan satu hal menarik. Prabowo menyatakan kesiapan untuk kembali meninjau daerah bencana. "Jika memungkinkan, Presiden ingin berkunjung lagi," jelasnya.
Mengapa Disebut "Tsunami Kedua"?