"Mutu pendidikan nasional di antara 70 negara, Indonesia ketinggalan jauh. Kita peringkat nomor 63 dari 70 negara," pungkas Hashim. Angka ini mencerminkan betapa sistem pendidikan Indonesia gagal mencetak generasi kompetitif. Kurikulum yang sering berganti, guru berkualitas rendah, dan fasilitas sekolah minim menjadi deretan masalah yang tak kunjung terselesaikan.
Kritik Hashim Djojohadikusumo ini datang di tengah upaya pemerintahan Prabowo-Gibran yang baru berjalan beberapa bulan. Janji kampanye tentang transformasi ekonomi dan peningkatan penerimaan negara kini diuji oleh realitas pahit yang diungkap sang utusan khusus. Publik menanti langkah konkret pemerintah merespon temuan mengkhawatirkan ini.
Apakah sistem perpajakan akan direformasi total? Akankah ekonomi gelap senilai Rp7.000 triliun bisa dijinakkan? Atau kritik Hashim hanya akan menjadi angin lalu seperti banyak kritik sebelumnya? Waktu yang akan menjawab. Yang pasti, Indonesia kini berdiri di persimpangan jalan. Antara berbenah dan naik kelas, atau terus terpuruk dalam sistem yang ia sebut "sangat-sangat parah" itu.
Baca Juga: Eks Penyidik KPK Bongkar Modus Persekongkolan Pejabat-Korporasi Tambang Penyebab Banjir Sumatera