• Selasa, 21 Juli 2026

Kisah Pengungsi Aceh Tamiang, Tak Minta Uang - Hanya Mukena dan Selimut

.
Dwi Rahayu Putri, Sulawesi Today
- Sabtu, 13 Desember 2025 | 12:57 WIB
Curhat korban banjir Aceh Tamiang viral. Berteduh di bawah terpal, tak minta uang, hanya mukena dan selimut untuk bertahan.
Curhat korban banjir Aceh Tamiang viral. Berteduh di bawah terpal, tak minta uang, hanya mukena dan selimut untuk bertahan.

Sulawesitoday - Aceh Tamiang masih basah. Bukan hanya oleh lumpur banjir bandang, tetapi juga oleh kecemasan para penyintas yang belum benar-benar pulih. Dua pekan lebih pascabencana, cerita pilu itu terus muncul ke permukaan.

Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah pedesaan di Aceh Tamiang pada akhir November 2025 meninggalkan luka dalam. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Sabtu, 13 Desember 2025, mencatat 58 orang meninggal dunia. Angka yang tak kecil. Angka yang menyimpan banyak nama.

Aceh Tamiang juga tercatat sebagai daerah dengan jumlah pengungsi terbanyak di Provinsi Aceh. BNPB menyebut, sebanyak 252,6 ribu warga harus mengungsi akibat banjir bandang dan longsor tersebut. Sebagian besar kehilangan rumah. Sebagian lainnya kehilangan arah.

Di tengah data statistik itu, suara korban terdengar lirih. Namun tajam.

  • Mengapa Bantuan Uang Tak Lagi Jadi Prioritas?

Sebuah video yang beredar di media sosial memperlihatkan potret sederhana, tapi mengguncang. Seorang ibu, korban banjir bandang di pedalaman Aceh Tamiang, menyampaikan permintaan yang tak lazim.

Ia tak meminta uang. Tidak juga sembako berlebih.

“Saya tidak butuh uang. Saya hanya ingin mukena dan kain sarung,” ucapnya pelan, dalam video yang diunggah akun Instagram @rumpi_gosip, Sabtu, 13 Desember 2025.

Permintaan itu terdengar sepele. Namun justru di sanalah letak maknanya. Bagi sang ibu, ibadah adalah cara bertahan. Cara menjaga kewarasan di tengah puing.

Suaminya, kata dia, tengah sakit. Tubuhnya menggigil di malam hari. Selimut menjadi kebutuhan mendesak.

“Suami saya sakit, perlu selimut. Itu saja,” katanya. Singkat. Jelas.

  • Bagaimana Para Pengungsi Bertahan?

Video itu juga memperlihatkan realitas tempat tinggal sementara para korban. Tak ada tenda layak. Tak ada dinding kokoh. Hanya terpal seadanya, disampirkan di atas motor yang rusak.

Di situlah mereka berteduh. Tidur. Menunggu.

“Kami tidur di tempat yang tidak layak. Yang penting bisa menghangatkan badan,” ujarnya lagi.

Di sekelilingnya, sisa bangunan berserakan. Kayu patah. Seng terlipat. Alam seolah meninggalkan tanda tanya besar.

Halaman:

Editor: Dwi Rahayu Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini