"Bukan kami enggak mau, cuman kan hati kecil kita, ngapain kita rakus," tuturnya menutup percakapan. Kalimat pendek tapi berisi. Filsafat hidup yang jarang dipraktikkan.
Aksinya langsung menuai pujian netizen. Komentar positif membanjiri unggahan. Banyak yang menyebutnya sebagai teladan. Contoh nyata kepemimpinan yang berpihak pada keadilan.
Namun ada juga yang skeptis. Mereka bertanya, berapa banyak ketua posko lain yang bersikap sama? Berapa banyak yang benar-benar mendistribusikan bantuan secara adil? Pertanyaan yang relevan mengingat kasus penimbunan bantuan sering terjadi.
Di Aceh sendiri, solidaritas bukan hal asing. Tradisi meunasah dan gotong royong sudah mengakar. Tapi di era modern, sikap individualistik mulai merambah. Aksi ketua posko ini menjadi pengingat. Pengingat bahwa nilai luhur itu masih hidup.
-
Respons Publik terhadap Video Viral
Video berdurasi singkat itu sudah ditonton ribuan kali. Dishare ulang di berbagai platform. Dari WhatsApp hingga Twitter. Viralitas yang pantas didapat.
Beberapa akun berita lokal turut memberitakan. Mereka menyoroti langkanya sikap seperti ini. Di tengah maraknya korupsi bantuan bencana, aksi ini bagaikan oase.
Ada yang membandingkan dengan kasus lain. Kasus di mana bantuan justru ditimbun. Dijual kembali. Atau bahkan dijadikan alat politik. Kontras yang menyakitkan.
Pemerintah daerah belum memberikan komentar resmi. Namun publik sudah memberikan apresiasi. Mereka menuntut agar ketua posko ini dijadikan contoh. Dijadikan standar bagi relawan lainnya.
-
Mengapa Keadilan Distribusi Penting?
Dalam situasi darurat, distribusi bantuan adalah kunci. Bantuan yang menumpuk di satu titik tak ada gunanya. Sementara titik lain kelaparan. Logika sederhana yang sering dilupakan.
Ketua posko ini memahami prinsip dasar itu. Ia tak hanya memikirkan kelompoknya. Ia berpikir sistemik. Melihat peta kebutuhan secara menyeluruh.
Keputusannya mengajarkan sesuatu. Bahwa kepemimpinan sejati bukan soal mengumpulkan sumber daya. Tapi soal mendistribusikannya dengan bijak. Dengan adil.
Kampung Sekumur yang ia sebutkan akhirnya mendapat bantuan tambahan. Beras yang tadinya mau diberikan ke poskonya dialihkan. Tepat sasaran. Tepat waktu.
Bayangkan jika semua ketua posko bersikap sama. Bencana akan lebih mudah dikelola. Bantuan merata. Tak ada yang berlebih, tak ada yang kekurangan.
Baca Juga: 72 Jam Tanpa Air Bersih, Ibu Korban Banjir Aceh Tamiang Ungkap Perjuangan Bertahan Hidup