berita

Bonan Dolok Masih Terisolir, Warga Tempuh Perjalanan Ekstrem Demi Bantuan Logistik

Rabu, 17 Desember 2025 | 22:46 WIB
Bonan Dolok terisolir pasca banjir Tapteng. Warga seberangi sungai demi bantuan. 131 meninggal, 41 hilang. Solidaritas tetap hidup

Intensitas hujan yang luar biasa tinggi menjadi pemicu utama. Curah hujan mencapai 400 milimeter dalam 48 jam—setara dengan hujan satu bulan penuh yang turun hanya dalam dua hari.

Kondisi geografis Tapanuli Tengah yang berbukit memperparah situasi. Tanah jenuh air. Lereng-lereng tidak stabil. Ketika hujan ekstrem datang, longsor massal tak terhindarkan.

Deforestasi di hulu ditengarai memperburuk daya serap tanah. Hutan yang seharusnya jadi penyangga kini tinggal gundul. Air langsung mengalir deras ke pemukiman.

Para ahli geologi memperingatkan wilayah ini masih rawan longsor susulan. Rekomendasi relokasi pemukiman mulai didiskusikan, meski warga enggan meninggalkan tanah leluhur.

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Bantuan terus mengalir dari berbagai pihak. Pemerintah pusat menurunkan tim gabungan. Organisasi kemanusiaan membuka posko. Masyarakat umum menyalurkan donasi.

Namun tantangan logistik tetap menjadi hambatan utama. Bantuan menumpuk di titik-titik distribusi yang bisa dijangkau kendaraan. Sementara desa-desa terisolir seperti Bonan Dolok harus mengandalkan portir manusia—warga yang rela berjalan berjam-jam.

"Kami butuh jalur udara lebih intensif," desak koordinator pos logistik. Helikopter hanya bisa beroperasi saat cuaca cerah. Frekuensinya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan ribuan pengungsi.

Dukungan jangka panjang juga krusial. Rehabilitasi infrastruktur membutuhkan waktu dan dana sangat besar. Pemulihan psikologis korban mungkin lebih lama lagi.

Baca Juga: Pascabanjir Aceh Tengah, Panen Cabe Merah Jadi Penyelamat Ekonomi Warga Bener Meriah

Halaman:

Tags

Terkini