• Selasa, 21 Juli 2026

Bonan Dolok Masih Terisolir, Warga Tempuh Perjalanan Ekstrem Demi Bantuan Logistik

.
Dwi Rahayu Putri, Sulawesi Today
- Rabu, 17 Desember 2025 | 22:46 WIB
Bonan Dolok terisolir pasca banjir Tapteng. Warga seberangi sungai demi bantuan. 131 meninggal, 41 hilang. Solidaritas tetap hidup
Bonan Dolok terisolir pasca banjir Tapteng. Warga seberangi sungai demi bantuan. 131 meninggal, 41 hilang. Solidaritas tetap hidup

Data terbaru Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tapanuli Tengah mencatat angka yang mengejutkan. Hingga Rabu kemarin, 131 orang meninggal dunia. Angka itu terus bertambah seiring penemuan korban baru.

Korban luka-luka mencapai 26 orang. Mereka tersebar di beberapa rumah sakit rujukan. Sementara 41 orang lainnya masih hilang—entah tertimbun, hanyut, atau terjebak di lokasi yang belum terjangkau tim SAR.

Pengungsi membludak di 12 kecamatan. Total 10.887 jiwa kehilangan tempat tinggal. Mereka menumpuk di posko-posko darurat, sekolah, bahkan di tenda-tenda seadanya.

Bonan Dolok adalah satu dari delapan desa yang masih terisolir total. Akses jalan putus. Jalur alternatif belum ditemukan. Helikopter menjadi harapan, namun cuaca kerap tidak bersahabat.

Kapan Akses Akan Terbuka?

Pertanyaan itu menggantung di benak setiap warga. Pemerintah daerah menjanjikan pembukaan akses secepat mungkin. Namun kondisi medan ekstrem membuat progres berjalan lambat.

Alat berat kesulitan masuk. Material longsor masih labil. Hujan sporadis memperburuk situasi. Setiap upaya pembukaan jalan sering kali sia-sia karena longsor susulan.

"Kami terus berupaya," ujar juru bicara BPBD tanpa bisa memberikan kepastian waktu. Janji yang terdengar hambar di telinga warga yang sudah hampir tiga pekan bertahan dalam keterbatasan.

Sementara itu, distribusi bantuan lewat jalur alternatif terus dipaksakan. Relawan dan warga setempat bekerja sama membentuk rantai logistik darurat—meski harus melewati sungai, lumpur, dan risiko longsor.

Bagaimana Nasib Anak-Anak?

Anak-anak menjadi korban paling rentan. Mereka kehilangan sekolah. Trauma berkepanjangan. Beberapa kehilangan orang tua seperti bayi yatim yang dibantu ibu tadi.

Psikolog yang turun ke lapangan melaporkan banyak anak mengalami gangguan tidur dan ketakutan berlebihan saat hujan turun. Suara gemuruh air langsung memicu kepanikan.

"Mereka butuh pendampingan psikososial serius," ungkap seorang relawan kesehatan. Sayangnya, layanan semacam itu masih sangat terbatas di tengah darurat yang belum usai.

Sekolah-sekolah rusak parah. Buku-buku hanyut. Masa depan pendidikan mereka menggantung tidak jelas. Pemerintah belum bisa memberikan jawaban pasti kapan kegiatan belajar-mengajar bisa kembali normal.

Mengapa Bencana Ini Begitu Dahsyat?

Halaman:

Editor: Dwi Rahayu Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini