berita

Prabowo Sentil Elite di Rakornas, Jangan Menyerah Lawan Kemiskinan - Kita Ini Kaya!

Senin, 2 Februari 2026 | 18:25 WIB
Presiden Prabowo Subianto kritik elite yang gagal kelola kekayaan alam. Di Rakornas 2026, beliau tegaskan jangan menyerah lawan kemiskinan dan minta pemimpin buang sekat politik.

Sulawesitoday - Sentimennya jelas: tidak ada tempat bagi rasa pesimis. Apalagi bagi para elite yang duduk di kursi empuk kekuasaan.

Senin 2 Februari 2025, Bogor menjadi saksi. Di tengah Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) 2026, Presiden Prabowo Subianto berdiri tegak. Kalimatnya tidak bersayap. Langsung menghunjam ke jantung persoalan: pengelolaan kekayaan negara yang belum beres.

Masalahnya bukan karena kita miskin sumber daya. Justru sebaliknya. Alam Indonesia ini luar biasa kayanya. Tapi, mengapa kemiskinan masih saja betah bertamu?

Prabowo menunjuk hidung para elite. Mulai dari birokrat, politisi, akademisi, hingga aparat. Semuanya disebut. Tidak ada yang luput.

"Kita harus akui bahwa elite Indonesia masih kurang dalam tugasnya menjaga dan mengelola kekayaan bangsa Indonesia," ujarnya. Tajam. Sebuah pengakuan jujur yang jarang terdengar dari podium tertinggi negara.

Melampaui Sekat Sejarah

Bagi Prabowo, musuh utama bukan lagi rival politik masa lalu. Musuh utamanya adalah kemiskinan dan keraguan diri sendiri. Beliau ingin semua pemimpin daerah membuang jauh-jauh rasa "apa mungkin?" atau "apa bisa?".

Beliau minta sekat-sekat lama dibongkar. Tidak peduli warna jaket partainya apa. Tidak peduli sejarah perselisihannya bagaimana.

"Mari kita bersatu, tidak ada urusan saudara berasal dari partai mana. Jangan kita terlibat dalam sekat-sekat yang timbul karena sejarah," tegas Prabowo.

Logikanya sederhana: kalau energi habis untuk bertengkar soal masa lalu, kapan sempat mengurus rakyat yang lapar?

Jangan Menyerah Sebelum Tanding

Pesan dari Bogor itu singkat tapi berat. Indonesia punya modal untuk hebat, tapi butuh nyali untuk membenahi "lingkaran masing-masing".

Presiden tidak ingin melihat pemimpin yang hanya bisa angkat tangan melihat angka kemiskinan yang tinggi. Itu kondisi yang tidak boleh diterima sebagai kewajaran.

“Kita tidak boleh menyerah, kita tidak boleh mengatakan ‘Apa bisa? Apa mampu?’ Selalu menimbulkan keraguan,” tambahnya lagi.

Halaman:

Tags

Terkini