Sulawesitoday - Aula Barat ITB Bandung mendadak terasa lebih hangat pada Rabu, 11 Februari 2026. Di ruangan bersejarah itu, Wakil Direktur Utama MIND ID, Dany Amrul Ichdan, melontarkan gagasan besar: Indonesia sudah saatnya berhenti merasa nyaman di angka 5 persen.
Sudah lebih dari satu dekade, pertumbuhan ekonomi nasional seolah terpaku di situ-situ saja. Struktur ekonominya masih sangat tradisional, yakni mengandalkan komoditas mentah dengan nilai tambah yang sangat terbatas. Akibatnya, Indonesia terjebak dalam perangkap negara berpendapatan menengah.
Dany melihat ada yang tidak beres dengan cara bangsa ini mengelola kekayaan alamnya. "Selama lebih dari satu dekade, ekonomi Indonesia seolah nyaman di angka 5 persen. Padahal, dengan modal yang dimiliki, Indonesia seharusnya mampu melompat ke tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi," tegasnya di hadapan hadirin, termasuk Menko Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar.
Lihat saja data penerimaan negara. Kontribusi pajak dan royalti terhadap PDB Indonesia baru berada di angka 9-10 persen. Angka ini sangat kontras jika dibandingkan dengan negara maju yang sudah mencapai level 30-40 persen. Selisih yang lebar itu menjadi bukti nyata bahwa ekspor bahan mentah masih mendominasi, sementara hilirisasi industri belum berjalan maksimal.
"Angka penerimaan negara yang rendah menunjukkan bahwa kita masih menjual bahan mentah. Nilai tambah terbesar justru dinikmati di luar negeri," ujar Dany dengan nada serius.
Padahal, Indonesia punya segalanya. Cadangan mineral strategis seperti nikel, emas, timah, bauksit, hingga batu bara menempati peringkat teratas dunia. Belum lagi potensi dari sumber daya sekunder dan limbah industri tambang yang belum tersentuh optimal. Bahkan, sektor perikanan pun masih menyimpan peluang raksasa yang belum diperas maksimal nilainya.
Lantas, bagaimana caranya agar bisa tumbuh 8 persen? Dany menawarkan sebuah kerangka strategi yang dia rangkum dalam konsep DAI: *Distinctive, Adaptive, dan Inclusive*.
*Distinctive* berarti industri harus berbasis pada keunggulan nasional, seperti ekonomi halal dan bioenergi. *Adaptive* artinya harus lincah merespons dinamika global, mulai dari kecerdasan buatan (AI) hingga transisi energi hijau. Sementara *Inclusive* menuntut adanya ekosistem yang melibatkan semua pihak, dari UMKM, *startup*, hingga perguruan tinggi.
Namun, ada satu ganjalan besar yang harus segera dibereskan: riset. Saat ini, anggaran riset Indonesia hanya sekitar 0,3 persen dari PDB. Angka yang dinilai sangat kecil untuk sebuah negara yang ingin bertransformasi menjadi pencipta inovasi, bukan sekadar pengadopsi teknologi.
Semua gagasan untuk membawa Indonesia "naik kelas" ini pun telah dituangkan Dany dalam bukunya yang terbit akhir tahun 2025. Kini, tinggal bagaimana pemerintah mengorkestrasi seluruh potensi tersebut agar tidak lagi sekadar menjadi catatan di atas kertas.
Konsisten Pemberdayaan Masyarakat, Grup MIND ID Raih Tiga Penghargaan Subroto Award 2025