Sulawesitoday - Sungai itu lebar. Airnya coklat. Arusnya deras. Ketinggiannya bisa mencapai lutut orang dewasa. Setiap hari, siswa dan guru di Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, harus melintasinya,. Tanpa alas kaki. Sepatu dan tas dijinjing tinggi-tinggi agar tidak basah.
Tujuannya cuma satu: SD Negeri Terpencil Bainaa Barat, Kecamatan Tinombo. Sebuah perjuangan yang sudah menjadi menu harian. Namun, kalau hujan turun, urusannya jadi lain. Rasa waswas langsung muncul. Ada ketakutan jika sungai tiba-tiba meluap.
Pelajaran di dalam kelas pun tidak bisa fokus. Pikiran para siswa tidak tenang setiap kali melihat langit mulai mendung,. Mereka lebih takut pada air bah daripada soal-soal di papan tulis.
Belakangan, ada program besar yang ramai dibicarakan: Makan Bergizi Gratis (MBG). Tapi bagi warga sekolah di pelosok Sulteng ini, ada kebutuhan yang jauh lebih mendesak. Sesuatu yang bisa menghubungkan dua daratan yang terpisah oleh air.
"Lebih butuh jembatan atau MBG?" tanya seorang guru kepada murid-muridnya yang sedang berjuang menyeberangi sungai.
Jawabannya serempak dan kompak: "Jembatan!".
Logika mereka sederhana saja. Bagaimana program makanan itu bisa sampai jika akses menuju sekolah saja sangat sulit? Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) diyakini akan kesulitan menjangkau lokasi yang terisolasi tersebut.
Melalui unggahan di media sosial yang viral, guru bernama Najib Nadir menitipkan pesan terbuka kepada pemerintah. “Bantu kami tag pemerintah, kalau memang MBG sulit untuk kami di sekolah terpencil, boleh tidak kami dibuatkan jembatan saja, Pak,” tulisnya.
Pesan itu bukan untuk menjatuhkan siapa pun. Ini adalah soal skala prioritas di lapangan. Pemerintah pusat memang memiliki dua program besar: MBG dan pembangunan infrastruktur. Bagi siswa di Tinombo, jembatan adalah urusan nyawa dan kelancaran belajar.
Dukungan dari warganet pun mengalir deras, sederas arus sungai yang mereka seberangi setiap pagi. Ada yang merasa tidak tega, ada pula yang menangis melihat akses jalan yang begitu memprihatinkan,.
Kini, bola ada di tangan pemerintah. Harapannya sederhana: agar anak-anak di pelosok negeri tidak perlu lagi bertaruh nyawa hanya untuk mendapatkan ilmu di sekolah. Sebab, pendidikan seharusnya menjadi jembatan bagi masa depan, bukan malah terhambat karena ketiadaan jembatan yang nyata.