Sulawesitoday - Geger itu bermula dari video pendek. Diunggah akun TikTok @pengawas.99 pada Jumat kemarin. Isinya bikin begidik: belatung hidup menggeliat di balik plastik vakum bandeng presto.
Padahal, itu menu Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk siswa SMA di Ngrayun, Ponorogo. Plastiknya masih rapat. Masih gres. Belum dibuka sama sekali.
Sabtu kemarin, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Cahaya Ngrayun akhirnya buka suara. Tidak ada bantahan. Tidak ada pembelaan yang bertele-tele. Mereka langsung menunduk. Mengakui ada keteledoran di lini belakang.
"Kami memohon maaf yang sebesar-besarnya atas kegaduhan dan keteledoran kami," tulis pihak SPPG dalam keterangan resminya.
Soal Dapur dan Supplier
Setelah ditelusuri, bandeng itu ternyata bukan hasil olahan dapur SPPG sendiri. Ada pihak ketiga yang menyuplai. Peran SPPG hanya di tahap akhir: melakukan pengemasan vakum di dapur mereka.
Logikanya sederhana. Bandeng datang, dimasukkan plastik, divakum, lalu didistribusikan. Prosedurnya diklaim sudah sesuai standar. Pakai alat pelindung diri (APD) lengkap pula. Tapi nyatanya, makhluk kecil itu bisa lolos sampai ke tangan siswa.
"Kami membeli bandeng presto dari supplier dan packing dengan vakum di dapur," jelas manajemen SPPG.
Memang, karakteristik bandeng presto itu unik. Tulangnya lunak. Teksturnya lembek. Baunya pun amis khas ikan. Kondisi inilah yang mungkin membuat pengawasan visual menjadi sedikit terkecoh.
Namun, belatung tetaplah belatung. Tidak boleh ada di piring siswa. Apalagi dalam program nasional yang anggarannya dari negara.
Tanggung Jawab dan Evaluasi
Pihak SPPG sadar, maaf saja tidak cukup. Perut yang kecewa harus diganti. Maka, Senin besok, 9 Maret 2026, menu pengganti akan dikirimkan. Bersamaan dengan jadwal pembagian MBG rutin.
Yang menarik adalah soal biaya. SPPG menegaskan tidak akan menyentuh sepeser pun uang dari Badan Gizi Nasional (BGN) untuk urusan ganti rugi ini.
"Penggantian menu tidak mengambil dari anggaran MBG, sepenuhnya akan ditanggung oleh mitra," tegas mereka.