Sulawesitoday - Bahlil Lahadalia sedang pusing tujuh keliling. Bukan karena urusan internal Golkar yang biasanya riuh itu. Kali ini urusannya lebih fundamental: dapur rakyat. Saat tensi politik di Timur Tengah mendidih, suhu kepala Menteri ESDM ini ikut naik.
Bayang-bayang kelangkaan gas melon menghantuinya sepanjang Ramadan lalu. Dari bangun tidur, sahur, sampai beduk magrib, hanya satu yang menari-nari di kepalanya. LPG.
Beban itu begitu nyata. Indonesia memang masih bergantung pada impor. Begitu Iran dan Israel saling gertak, pasokan global langsung goyang. Bahlil tahu betul risikonya. Kalau stok macet, urusannya bisa panjang. Rakyat bisa marah.
Saking beratnya tekanan itu, Bahlil sampai melontarkan seloroh yang tidak biasa. "Saking tiap hari mikirin LPG, muka saya waktu itu hampir jadi elpiji," ujarnya di hadapan audiens, disambut tawa.
Tentu itu hanya bercanda. Tapi di balik tawa itu ada kecemasan yang dalam. Dia ingin menggambarkan betapa tidak menentunya stabilitas energi kita saat dunia sedang tidak baik-baik saja.
Pemerintah memang harus jungkir balik. Menjaga harga tetap stabil di tengah kurs dollar yang liar dan harga minyak dunia yang melonjak adalah pekerjaan yang menguras energi. Belum lagi soal distribusi ke pelosok yang seringkali mampet.
Selama ini kita mungkin tenang-tenang saja saat menyalakan kompor. Kita tidak tahu ada menteri yang sampai merasa wajahnya membundar hijau seperti tabung tiga kilo gara-gara memikirkan stok gas di pangkalan.
Ini bukan sekadar soal angka di atas kertas. Ini soal perut. Dan Bahlil memilih menceritakannya dengan gaya jenaka—meski isinya sebenarnya amat sangat serius.
Ketahanan energi kita memang masih rapuh. Sangat bergantung pada situasi geopolitik yang jauh di sana. Tapi setidaknya, untuk saat ini, stok masih aman. Meski sang menteri harus rela "berwajah" elpiji demi memastikan api di dapur warga tetap menyala.
Bahlil Heran Harga BBM Tidak Naik Tetap Diprotes, Ini Cocok Hidup di Alam Mana?