Sulawesitoday - Bahlil Lahadalia sedang garuk-garuk kepala. Bukan karena ketombe. Tapi karena logika publik yang sulit ditebak. Harga minyak dunia sedang beringas. Bertengger di angka USD 100 per barel. Namun, pemerintah justru memilih diam. Menahan harga. Sejak 1 April lalu, harga BBM subsidi maupun nonsubsidi tak bergeser satu rupiah pun.
Anehnya, kebijakan "menyenangkan" ini tetap saja kena semprot. Lead berita yang biasanya lurus-lurus saja, kini penuh tanda tanya besar.
"Ada orang mempertanyakan kenapa harga BBM tidak naik. Saya kadang bingung juga," ujar Bahlil dengan nada masygul, Jumat lalu (10/4). "Kalau BBM naik protes, BBM tidak naik protes juga. Ini cocok hidup di alam mana, jadi bingung saya," tambahnya.
Logika Bahlil sederhana. Ekonomi harus stabil. Daya beli rakyat harus dijaga. Nafas APBN pun diklaim masih panjang. Kuat menahan beban fluktuasi global yang sedang gila-gilaan itu. Memang, subsidi energi bakal bengkak. Jelas. Tapi Bahlil punya hitung-hitungan sendiri. Ada penyeimbang. Yakni kenaikan pendapatan negara dari sektor migas. Ibarat kantong kiri keluar lebih banyak untuk subsidi, tapi kantong kanan terisi lebih tebal dari ekspor.
Dalam APBN 2026, target pendapatan migas dipatok USD 10,8 miliar. Sekitar Rp184 triliun. Angka yang sangat gemuk untuk menambal lonjakan anggaran subsidi di tengah perang dan ketidak pastian dunia.
Tapi begitulah politik energi. Selalu ada tarik-menarik. Pemerintah ingin jadi pahlawan stabilitas, tapi publik telanjur skeptis. Suara-suara di jagat maya bahkan lebih tajam dari analisis pengamat ekonomi manapun.
Ambil contoh komentar @Elys Trisnasari. "Mau sy itu ga ada yg naik kecuali gaji yg naik," tulisnya. Pendek. Tapi menusuk. Ini adalah representasi jutaan orang yang tidak peduli harga minyak dunia, asal dapur tetap ngebul.
Ada juga yang punya ingatan panjang. Mengungkit sejarah krisis masa lalu. @Atmy Dusky Hia melempar tanya: "Masalahnya waktu krisis global th. 2008 harga bbm naik knp apbn ga bisa kasi subsidi ya.."
Bahkan, kecurigaan akan adanya "permainan" di balik layar tetap santer terdengar. @Sundari Sundari menulis dengan nada sinis bahwa kenaikan atau penahanan harga hanyalah "drama dari belakang." Belum lagi komentar pedas dari akun @Ajuy yang menyerang personal, hingga @Hantu Kunti yang merasa harga BBM di dalam negeri sudah terlanjur "mahal" jauh sebelum perang pecah.
Bahlil mungkin benar soal angka. Pemerintah punya kalkulasi matang di atas kertas. Tapi di mata netizen, urusan perut tidak bisa diselesaikan hanya dengan tabel data. Dua dunia ini—alam birokrasi dan alam realita—sepertinya memang sulit untuk ketemu.
Bagi rakyat, yang penting hanya satu: jangan sampai dompet kempis. Entah bagaimana caranya pemerintah memutar otak di Jakarta sana. Itulah seninya mengurus negara. Kebijakan bagus belum tentu dianggap bagus, apalagi jika kepercayaan publik sudah kadung luntur.
Bahlil bingung, rakyat apalagi. Mungkin benar kata Beliau, ini soal hidup di alam yang berbeda.
Menteri Bahlil: Urus BBM Tak Bisa Sendiri, Perlu Gaya Terminal
Artikel Terkait
Iuran BPJS Ketenagakerjaan Parigi Moutong Diskon 50 Persen, Marbot Masjid Kini Terlindungi
Investasi di 2026, Ini Strategi Parigi Moutong Ubah Potensi Alam Menjadi Uang Nyata
Anak Tak Terlindas, Ini Fakta di Balik Video Viral Ibu Peluk Ban Mobil SPPG Indramayu
Kisah Heroik Guru di Majene, Sisihkan Gaji Setiap Bulan Jadi Donatur Transportasi Murid
KM Sabuk Nusantara 93 Angkut 308 Penumpang, Polres Majene Perketat Keamanan Pelabuhan