berita

Arti Qurban Saat Ego Mulai Lupa

Selasa, 26 Mei 2026 | 00:49 WIB
Kisah bocah mandiri dan esensi khutbah Masjid An-Nur Parigi ingatkan kita arti qurban sejati, menyembelih ego demi kemanusiaan.

Feature Sulawesitoday - Langit malam di sudut Kota Parigi pelan-pelan mendingin ditelan kegelapan. Angin malam berbisik pelan membawa aroma tanah basah sisa hujan sore lalu. Cahaya lampu jalanan yang temaram tampak setia menemani keheningan yang mulai merayap.

Di teras rumah yang sepi, segelas kopi hangat sengaja dibiarkan tanpa disentuh. Jemari ini mendadak berhenti mengusap layar ponsel pintar setelah melihat sebuah tayangan. Tatapan mata ini terpaku lama pada sepotong video singkat berdurasi satu menit tiga puluh detik.

Baca Juga: Perahu Penjaga Dapur di Laut Lebo

Dalam video, seorang pria mapan berpakaian rapi tampak sedang berbicara dengan bocah lelaki berusia sebelas tahun. Pengusaha kaya itu bermaksud memberikan sejumlah uang secara cuma-cuma karena merasa iba. Bocah kecil berwajah polos itu langsung menggelengkan kepala sambil menyembunyikan kedua tangannya.

"Aku mau bekerja dulu baru menerima upah," ucap anak kecil itu lirih. "Emak selalu mendidik aku agar terbiasa memeras keringat sebelum mendapatkan uang," lanjutnya lagi. Pria mapan terpaku mendengar kalimat polos yang keluar dari bibir mungil sang bocah.

"Kamu masih sangat kecil untuk memikirkan prinsip seberat ini," ujar pengusaha dengan nada heran. "Orang lain di luaran sana bahkan mengemis demi selembar rupiah tanpa mau berusaha," tambahnya. Bocah itu tersenyum tipis lalu berkata jika harga diri tidak bisa ditukar dengan rasa kasihan.

Suasana hangat di dalam video mendadak berubah menjadi penuh keharuan yang mendalam. Pengusaha kaya itu seketika terdiam lalu menepuk pundak sang bocah dengan mata berkaca-kaca. Ia baru mengetahui fakta kalau kedua orang tua anak mandiri itu sudah meninggal dunia.

Qurban sejati bukan tentang seberapa banyak darah hewan yang mengalir ke bumi. Ia adalah tentang kerelaan mengikis cinta duniawi yang bersemayam subur di dalam dada. Menurunkan ego egois demi membukakan pintu kehidupan yang lebih layak bagi sesama manusia.

Pria kaya dalam video itu langsung merangkul tubuh kurus sang yatim piatu dengan erat. Ia berjanji akan membiayai seluruh sekolah anak itu hingga tuntas tanpa syarat. Keheningan panjang langsung menyergap kalbu saat melihat ketulusan yang tersaji di layar kaca.

Baca Juga: Benalu Kompetensi di Lingkaran Kekuasaan

Dada ini terasa sesak oleh rasa haru yang mengalir begitu saja tanpa bisa dibendung. Ingatan ini mendadak melompat pada khutbah Jumat di Masjid An-Nur beberapa hari yang lalu. Sang khatib menyerukan pentingnya kepedulian sosial di tengah zaman yang serba sulit ini.

Besok pagi gema takbir Hari Raya Qurban akan mulai berkumandang membelah angkasa raya. Apakah kita sudah benar-benar siap menyembelih sifat mementingkan diri sendiri dalam kehidupan sehari-hari? Sementara itu kopi di atas meja sudah mendingin sempurna bersama waktu yang terus bergulir. (Rafii)

Tags

Terkini