berita

Protes Memanas: Warga Desa Laroue Morowali Menentang Tambang Batu Gamping

Senin, 23 Desember 2024 | 05:31 WIB
Warga Desa Laroue memprotes tambang batu gamping PT DJM. Apakah ini ancaman ekosistem atau peluang ekonomi baru?

Sulawesitoday - Warga Desa Laroue di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, tengah bersiap untuk menggelar unjuk rasa di DPRD awal Januari 2025. Gerakan ini adalah bentuk penolakan mereka terhadap operasional tambang batu gamping yang dijalankan oleh PT Denmar Kaya Mandiri (DJM).

“Kami akan melakukan RDP Januari 2025, dengan agenda menolak kehadiran tambang,” kata Abdul Samad, salah satu perwakilan masyarakat desa. Ia menekankan bahwa keberadaan tambang berpotensi merusak ekosistem yang sudah ada. Kekhawatiran ini menjadi dasar kuat bagi warga untuk terus menyuarakan aspirasi mereka.

Namun, di sisi lain, proyek tambang tersebut telah mendapatkan persetujuan formal. PT DJM memiliki Izin Usaha Pertambangan (IUP) Operasi Produksi yang diterbitkan oleh Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sulawesi Tengah pada 28 Agustus 2024. Selain itu, perusahaan ini juga mengantongi rekomendasi dokumen UKL/UPL dari Dinas Lingkungan Hidup.

Sikap warga ini tidak terlepas dari upaya mereka menjaga lingkungan desa. Mereka merasa ekosistem yang menjadi sumber kehidupan utama dapat terganggu oleh aktivitas tambang. Ini mencakup kerusakan lahan, polusi udara, hingga dampak pada sumber air yang menjadi kebutuhan vital.

Baca Juga: Skandal Hubungan Gelap: Desakan Aliansi Gempur DPRD Tolitoli untuk Bertindak Tegas

Di lain pihak, pemerintah setempat melalui Kepala Desa Laroue, Samirudin, menyatakan dukungan terhadap kehadiran tambang. Menurutnya, investasi ini dapat memberikan dampak ekonomi yang positif bagi masyarakat. “Beroperasinya tambang akan meningkatkan ekonomi desa dan menyerap tenaga kerja lokal,” katanya. Ia juga menyoroti pembangunan fasilitas infrastruktur yang dilakukan PT DJM di sekitar lokasi tambang sebagai langkah awal yang signifikan.

Dukungan ini, bagaimanapun, tidak menghilangkan adanya resistensi dari sebagian besar warga. Penolakan ini terlihat jelas melalui petisi yang telah diteken oleh warga desa. Bahkan, beberapa di antaranya menganggap bahwa upaya pembangunan ekonomi tidak sebanding dengan risiko kerusakan lingkungan yang berpotensi terjadi.

Unjuk rasa ini menjadi panggung bagi masyarakat untuk menyuarakan kekhawatiran mereka di tingkat kebijakan. Konflik antara kepentingan lingkungan dan pertumbuhan ekonomi menjadi sorotan utama, mencerminkan tantangan yang dihadapi daerah-daerah kaya sumber daya alam seperti Morowali.

Ayo Gabung di Channel WhatsApp Sulawesitoday! Dapatkan update informasi dan berita terbaru di https://bit.ly/WAchanelSulawesitoday

Jangan Ketinggalan Berita Eksklusif Lainnya! Yuk, cek langsung di Google News Sulawesitoday.com: https://news.google.com/publica.../CAAqBwgKMN3Bswsw6tzKAw...

Tags

Terkini