Sulawesitoday - Malam itu, 24 Mei 2025, Sleman tak sepenuhnya tenang. Suara BMW putih membelah gelap di Jalan Palagan Tentara Pelajar. Lalu terdengar kabar: seorang mahasiswa Fakultas Hukum UGM, Argo Ericko Achfandi, tewas ditabrak.
Beberapa jam kemudian, media sosial bekerja lebih cepat dari proses penyidikan. Nama sang pengemudi, Christianto Pangarapenta Tarigan, mencuat. Tapi sorotan tak berhenti di dia. Fokus publik beralih ke nama lain: Setia Budi Tarigan—ayah sang pengemudi.
Siapa dia?
Bukan Orang Biasa
Setia Budi bukan nama baru di dunia keuangan. Direktur Operasional FIF Group. Perusahaan pembiayaan raksasa di bawah Astra. Lulusan Akuntansi dari Universitas Sumatera Utara itu bergabung sejak 1997. Kariernya naik tangga demi tangga: auditor, kepala cabang, kepala SDM, hingga kursi panas operasional. Orang seperti ini tidak terbiasa menunggu antrean panjang. Mereka terbiasa menandatangani keputusan.
Tapi kali ini, urusannya bukan SOP korporat. Ini tentang nyawa, keadilan, dan kepercayaan publik.
Gaji Besar, Pertanyaan Lebih Besar
Tak ada data resmi kekayaan Setia Budi. Tapi kita bisa menebak arahnya. Gaji direktur operasional di perusahaan besar bisa menyentuh angka yang membuat karyawan biasa dua kali berpikir sebelum cuti. Angka puluhan juta per bulan adalah titik awal, belum termasuk bonus tahunan dan fasilitas yang—kata orang dalam—“bisa bikin lupa rasanya naik kendaraan umum.”
Dan ketika seseorang di level itu menjadi orang tua dari tersangka kasus kecelakaan maut, wajar jika publik bertanya: akan adilkah proses ini?
Isu Jalan Damai dan Tagar Melawan
Satu unggahan di X (dulu Twitter) jadi bahan bakar kemarahan: Setia Budi disebut menghubungi keluarga korban. Tak ada klarifikasi, tak ada penyangkalan. Tapi tagar #JusticeForArgo menggelinding. Cepat, emosional, dan menantang sistem hukum yang kerap dianggap berpihak pada mereka yang punya relasi dan posisi.
Akun Instagram yang Hilang
Publik mencarinya. Tapi akun @setia.b.tarigan menghilang—seperti daun jatuh sebelum musim. Apakah itu strategi meredam amarah? Atau hanya bentuk manusiawi dari rasa malu dan tekanan? Publik tak butuh spekulasi, mereka butuh kejelasan.
Ini Bukan Sekadar Kecelakaan
Artikel Terkait
Rp2,9 Triliun Menguap dari Pupuk: Negara Bayar Mahal, Petani Tetap Menjerit
WNA Swiss Penggalang Dana Ilegal Anjing Liar Dideportasi dari Bali Malam Ini
Tawuran Subuh di Bandarharjo, Nyawa Melayang, Empat Jadi Tersangka
Diam-Diam Parigi Moutong Masuk Radar Tiongkok Lewat Durian Beku
Video Viral Oknum Polisi Gowa Minta Uang Tilang: Dinonaktifkan, Tapi Masalah Belum Selesai