• Senin, 20 Juli 2026

Militer Israel Terobos Laut Internasional, Kapal Bantuan Gaza Dicegat Paksa

.
Dwi Rahayu Putri, Sulawesi Today
- Senin, 9 Juni 2025 | 10:29 WIB
Militer Israel serbu kapal bantuan Madleen di perairan internasional. Komunikasi terputus, aktivis, termasuk Greta Thunberg, di bawah pengawasan.
Militer Israel serbu kapal bantuan Madleen di perairan internasional. Komunikasi terputus, aktivis, termasuk Greta Thunberg, di bawah pengawasan.

Sulawesitoday - Militer Israel nekat menerobos perairan internasiona, mencegat kapal bantuan Madleen, hingga memutus komunikasi dengan para awak yang mengusung misi kemanusian ke Gaza. Insiden ini terjadi Minggu malam waktu setempat, menyisakan tanda tanya besar soal batas kedaulatan laut dan nurani kemanusiaan yang koyak.

Ketika "Provokasi Politik" Membungkam Misi Kemanusiaan

Drama penyergapan di tengah samudra lepas itu seolah menjadi puncak ketegangan yang merajut beberapa hari terakhir. Kapal Madleen, bendera misi Freedom Flotilla Coalition (FFC), berlayar dari Sisilia dengan segudang harapan; membawa bantuan simbolis sekadar susu formula dan beras, namun bermakna setinggi langit untuk Gaza yang didera krisis kemanusiaan akut. Tapi harapan itu kini terkunci dalam cengkraman militer Israel.

FFC merilis pernyataan, mengabarkan detik-detik mencekam ketika serdadu Israel, seperti bajak laut modern, memblokade dan menaiki kapal secara paksa. Madleen kemudian diseret menjauh, menuju pelabuhan Israel yang entah berantah. Belum ada kabar soal korban luka, namun dipastikan seluruh penumpang kini berada di bawah pengawasan ketat. Kapal yang seharusnya menjadi bahtera harapan, kini menjadi saksi bisu pembungkaman.

Greta Thunberg Hingga Anggota Parlemen Eropa Terlibat

Bukan sembarang pelayar, Madleen mengangkut setidaknya belasan aktivis dari berbagai penjuru bumi. Di antara mereka, ada nama kondang Greta Thunberg, aktivis lingkungan berkaliber dunia, serta Rima Hassan, anggota Parlemen Eropa yang getol bersuara. Kehadiran mereka menambah bobot insiden ini, menempatkannya di panggung mata dunia. Sebuah pesan simbolis yang justru dibalas dengan aksi militer, bukan dialog.

Israel Berdalih "Provokasi"

Menteri Pertahanan Israel Katz tak membuang waktu. Dengan enteng, ia membenarkan pencegatan itu. Katz menyebut misi Madleen sebagai "provokasi politik" yang sengaja disebar untuk memancing. "Bantuan hanya akan diterima jika melalui jalur resmi yang diizinkan oleh otoritas Israel," katanya, seolah menutup mata pada krisis kemanusiaan yang tak kenal birokrasi. Dalih itu seolah menjadi tameng bagi sebuah operasi yang mengabaikan kedaulatan perairan internasional.

Kronik Pemutusan Asa

1 Juni: Madleen bertolak dari Sisilia, Italia, mengusung bendera kemanusiaan dan sekelompok aktivis internasional yang percaya pada kekuatan solidaritas.

7–8 Juni: Laporan mulai masuk: kapal-kapal cepat Israel mengintai, sinyal internet putus, dan drone-drone beterbangan di atas kepala. Sinyal bahaya sudah terpancar, tapi misi tak gentar.

9 Juni: Puncaknya. Kontak terakhir terputus total. Militer Israel naik ke kapal, seperti menguasai kapal musuh, bukan kapal misi kemanusiaan. Posisi kapal kemudian dilaporkan dialihkan ke perairan dekat pelabuhan Ashdod.

Desakan Koalisi dan Sunyinya Tanggapan Internasional

Baca Juga: Dosen Pengacung Pistol Dinsos Gorontalo Serah Diri, Misteri Motif dan Jenis Pistol Belum Terkuak

Halaman:

Editor: Dwi Rahayu Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini