Sulawesitoday - Jalan Salemba itu panjang. Tapi malam itu, Kamis, 12 Maret 2026, terasa begitu pendek dan mencekam bagi Andrie Yunus. Jarum jam menunjuk pukul 23.30 WIB. Sunyi. Lalu, byur! Cairan itu mendarat. Bukan air hujan. Bukan pula air mineral. Itu air keras.
Andrie bukan orang sembarangan. Ia aktivis KontraS. Lembaga yang kerjanya memang mencari masalah: masalah ketidakadilan, masalah orang hilang, dan masalah kekerasan.
Kini, video CCTV insiden itu sudah terbang ke mana-mana. Melintasi layar ponsel, masuk ke grup-grup WhatsApp. Orang melihatnya dengan ngeri. "Kedzaliman itu bila dibiarkan, tinggal tunggu waktu kita yang jadi korbannya," tegas Felix Siauw lewat akun Instagramnya, Sabtu kemarin.
Pola yang Berulang
Bagi Felix, kejadian ini seperti memutar kaset lama. Judulnya sama: teror penyiraman air keras. Dulu, korbannya Novel Baswedan. Tahun 2017. Polanya persis. Targetnya jelas: mereka yang dianggap mengganggu kenyamanan pihak tertentu.
Felix tidak mau basa-basi. Ia mencium aroma perencanaan yang matang. Tidak mungkin ini aksi spontan orang iseng. "Dengan alasan apa pun, kepengecutan seperti ini jarang terjadi kalau tidak ada backup-nya," tulisnya lagi.
Maka, tuntutannya hanya satu. Polisi harus cepat. Jangan biarkan publik berspekulasi liar. Jangan sampai rasa aman di negeri ini luntur karena satu botol cairan kimia.
Sinyal Buruk Demokrasi
Di tempat lain, Rocky Gerung sudah punya analisisnya sendiri. Tajam. Seperti biasa. Lewat kanal YouTube-nya, Rocky melihat ini bukan sekadar kriminalitas biasa. Ini adalah serangan terhadap simbol.
Andrie Yunus adalah suara kritis. KontraS adalah penjaga gawang demokrasi. Jika aktivisnya disiram air keras, yang terbakar bukan hanya kulit, tapi juga nyali masyarakat sipil untuk bicara.
"Jika air keras disiramkan kepada Andrie, artinya ada upaya untuk membungkam suara kritis," ujar Rocky dengan nada datar namun menohok.
Pertaruhan Reputasi
Dunia internasional pasti melirik. Indonesia sering dipuji karena demokrasinya. Tapi, kalau aktivis HAM-nya tidak bisa pulang dengan aman di tengah malam, pujian itu bisa berubah jadi cibiran.
"Rating Indonesia bisa turun jika penghargaan terhadap aktivis HAM tidak terlindungi," tukas Rocky.
Artikel Terkait
Pegiat Anti Korupsi Bedah Dokumen Kilat Izin Tambang Tumpang Pitu Era Azwar Anas
Geger 29 Karung Cacahan Uang Asli di TPS Liar Bekasi, BI Investigasi SOP
Maling Cerdik di Sudirman, Manfaatkan Jam Makan Siang Kuras Harta Tamu Hotel Mewah
Waspada Loker Facebook! Warga Palu Jadi Korban Begal Usai Tergiur Gaji Rp2,3 Juta
Puding Stroberi Berbelatung di SD Malang, Wali Kota Tegaskan Sanksi untuk SPPG