Sulawesitoday - Nasib pekerja di PT Heng Jaya itu berakhir tragis. Tewas. Tapi yang membuat darah Muhammad Safri mendidih bukan hanya soal hilangnya nyawa. Melainkan bagaimana nyawa itu diperlakukan setelah tak ada.
Kabarnya, jenazah korban dibungkus karung.
"Ini tindakan yang sangat biadab dan tidak berperikemanusiaan," ujar Safri dengan nada geram, Jumat kemarin.
Bagi Sekretaris Komisi III DPRD Sulawesi Tengah ini, membungkus manusia dengan karung adalah puncak dari hilangnya empati. Itu bukan sekadar prosedur yang salah. Itu penghinaan terhadap martabat manusia. Sangat biadab.
Safri tidak mau kasus ini menguap begitu saja. Jangan sampai hanya dianggap kecelakaan kerja biasa. Lalu selesai dengan santunan. Tidak bisa.
Ada bau tidak sedap di balik insiden ini: dugaan pelanggaran hukum yang sistematis. Safri mencium adanya aktivitas penebangan pohon tanpa izin. Kalau itu benar, ini bukan lagi soal kelalaian. Ini pembangkangan terhadap kedaulatan negara.
"Negara tidak boleh tunduk pada perusahaan yang jelas-jelas melanggar aturan," tegas Ketua Fraksi PKB itu.
Maka, sasaran tembak Safri pun jelas. Pertama: Gubernur Sulawesi Tengah. Sang Gubernur diminta jangan lembek. Jangan terlalu banyak kompromi.
Logikanya sederhana: jika perusahaan sudah abai pada hukum dan tega mengorbankan nyawa, untuk apa dipertahankan?
"Jika terbukti melanggar, cabut izinnya," pintanya tanpa basa-basi.
Kedua: Aparat penegak hukum. Khususnya Polres Morowali.
Safri mewanti-wanti agar polisi bekerja profesional. Transparan. Jangan ada main mata di balik layar. Publik sekarang sudah cerdas. Bisa melihat mana penyelidikan yang jujur, mana yang sekadar "formalitas".
"Polisi harus terbuka. Bongkar semua, baik soal SOP keselamatan kerja (K3) maupun unsur pidananya," tegas Safri lagi.
Truk Muat Ekskavator Gagal Taklukkan Tanjakan Morowali, Terperosok di Perbatasan Sulteng-Sultra
Artikel Terkait
Truk Muat Ekskavator Gagal Taklukkan Tanjakan Morowali, Terperosok di Perbatasan Sulteng-Sultra
Langit Sulteng Gelap Pekan Ini, Potensi Hujan Lebat dan Angin Kencang Mengintai
Siswa Sulteng Bertaruh Nyawa Seberangi Sungai, Guru: Kami Lebih Butuh Jembatan dari MBG
Ramadhan 1447 H Imigrasi Sulteng, Bukan Cuma Urus Paspor Tapi Tebar Takjil di Palu
75 Ribu Jamaah Bakal Banjiri Palu, Kapolda Sulteng: Haul Guru Tua Milik Kita Bersama!